Sabtu 06 Jun 2026 16:20 WIB

Vaksin Buatan Al Diuji pada Manusia

Vaksin diberikan lewat teknologi jet mikrofluida yang menyemprotkan antigen ke kulit.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Vaksin (ilustrasi). Tim peneliti asal Inggris mengembangkan vaksin pertama yang dirancang sepenuhnya oleh kecerdasan buatan (Al) dan telah diuji pada manusia.
Foto: Dok. Magnific
Vaksin (ilustrasi). Tim peneliti asal Inggris mengembangkan vaksin pertama yang dirancang sepenuhnya oleh kecerdasan buatan (Al) dan telah diuji pada manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tim peneliti asal Inggris mengembangkan vaksin pertama yang dirancang sepenuhnya oleh kecerdasan buatan (Al) dan telah diuji pada manusia. Vaksin tersebut diklaim dapat memberikan perlindungan lebih luas dari berbagai virus yang bermutasi, bahkan berpotensi melindungi dari virus baru di masa depan.

Penelitian ini dipimpin oleh ilmuwan dari University of Cambridge dan University of Southampton. Menurut peneliti, pengembangan vaksin ini sangat penting karena sistem yang ada saat ini masih bersifat reaktif dan kesulitan mengikuti laju evolusi virus.

Baca Juga

“Virus seperti Influenza, Coronavirus, dan Ebola terus berevolusi. Saat vaksin tersedia dan mulai didistribusikan, vaksin kerap kali sudah tidak sepenuhnya sesuai dengan strain virus yang beredar,” kata peneliti Prof Saul Faust, dilansir laman Euro News, Sabtu (6/6/2026).

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah wabah yang disebabkan oleh betacoronavirus telah terjadi, termasuk pandemi Covid-19. Peredaran virus-virus tersebut secara berkelanjutan telah memicu mutasi dan munculnya berbagai varian baru.

Menjawab tantangan tersebut, para peneliti mengembangkan jenis vaksin baru yang dirancang untuk memberikan perlindungan jangka panjang terhadap berbagai virus dalam satu kelompok, seperti virus Ebola maupun kelompok virus corona, meskipun virus-virus tersebut terus mengalami pengobatan.

Pemimpin peneliti, Prof Jonathan Heeney dari Laboratorium Zoonosis Virus di University of Cambridge, mengatakan teknologi ini dapat mengubah paradigma pengembangan vaksin. "Kami telah mengubah pengembangan vaksin dari yang sebelumnya bersifat reaktif menjadi siap menghadapi masa depan. Kami mengatasi keterbatasan vaksin tradisional yang perlindungannya terbatas. Dengan demikian, kita tidak perlu terus-menerus mengejar varian virus yang beredar dan memperbarui vaksin agar dapat menyusulnya," kata dia.

Untuk menciptakan vaksin ini, tim peneliti menggunakan komponen aktif yang sepenuhnya dirancang oleh Al yang dikenal sebagai "super-antigen". Vaksin ini menggunakan protein hasil desain komputer yang meniru karakteristik umum yang dimiliki banyak virus corona, alih-alih menargetkan satu strain spesifik. Pendekatan ini dapat memicu sistem kekebalan tubuh untuk melawan berbagai patogen yang memiliki karakteristik dasar yang sama.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement