Jumat 19 Jan 2024 12:28 WIB

Bocah Lecehkan Jamaah Perempuan di Masjid Lombok, Ulama Serukan DKM Punya SOP Keamanan

CCTV di masjid seharusnya bukan cuma alat untuk mencari bukti setelah kejadian.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda
Menara masjid (Ilustrasi). Pelecehan seksual terhadap jamaah perempuan terjadi di Masjid Agung Praya Lombok, NTB.
Foto: Republika/Yogi Ardhi
Menara masjid (Ilustrasi). Pelecehan seksual terhadap jamaah perempuan terjadi di Masjid Agung Praya Lombok, NTB.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah video yang viral di media sosial menunjukkan peristiwa memprihatinkan yang terjadi di Masjid Agung Praya Lombok, NTB, pada Selasa (16/1/2024). Seorang bocah lelaki tertangkap kamera CCTV sedang melakukan pelecehan seksual terhadap jamaah perempuan yang sedang menjalankan ibadah sholat.

Meski tidak menyentuh secara fisik, anak laki-laki tersebut beberapa kali melakukan gerakan yang menyerupai aktivitas seksual saat sang jamaah perempuan sedang rukuk dan sujud. Dalam video yang beredar, terdengar pula suara tawa beberapa lelaki yang seperti sedang menonton tayangan rekaman CCTV itu.

Baca Juga

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ahmad Zubaidi mengecam apa yang terjadi dalam video yang sedang viral tersebut. "Pelecehan, dilakukan oleh siapa pun, adalah tindakan yang tidak benar. Apalagi sampai ada seorang anak melakukan seperti itu," kata Zubaidi ketika dihubungi Republika.co.id, Jumat (19/1/2024).

Dalam pandangan Zubaidi, apa yang dilakukan anak lelaki tersebut merupakan tanda bahwa dia telah terpapar berbagai konten yang semestinya belum boleh dikonsumsi anak. Zubaidi mengingatkan agar para orang tua lebih mengawasi putra-putrinya saat mengakses konten.

 

Dia juga sangat menyayangkan karena semestinya masjid menciptakan lingkungan yang betul-betul aman untuk semua jamaah. Baik jamaah laki-laki, perempuan, maupun anak-anak sudah seharusnya merasa aman ketika beribadah atau berkegiatan di dalam masjid.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

"Ketika ada CCTV pun seharusnya bukan sekadar dipasang sebagai alat untuk mencari bukti setelah kejadian. Tapi, bagaimana CCTV melihat keseluruhan bagian masjid yang diawasi, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Zubaidi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement