Ahad 07 Jan 2024 12:46 WIB

Penyebutan Wisata Ramah Muslim Lebih Disarankan Dibandingkan Wisata Halal, Mengapa?

Penggunaan istilah wisata halal bisa dimaknai berbeda sehingga rentan penolakan.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Qommarria Rostanti
Wisata halal (ilustrasi). Keberadaan wisata ramah Muslim dinilai diperlukan.
Foto: Republika.co.id
Wisata halal (ilustrasi). Keberadaan wisata ramah Muslim dinilai diperlukan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kehadiran wisata ramah Muslim atau Muslim friendly menjadi sesuatu yang dinilai perlu oleh pengamat pariwisata Profesor Azril Azahari. Bahkan, di sejumlah daerah di Indonesia yang mayoritas penduduknya tidak beragama Islam sekalipun. 

"Wisata ramah Muslim artinya ada extended services atau tambahan pelayanan, khusus bagi orang-orang Muslim. Kalau memakai istilah wisata ramah Muslim, berbagai daerah sudah oke dan tidak ada penolakan," kata Azril saat dihubungi Republika.co.id.

Baca Juga

Dia menyebutkan bahwa Bali, Medan, sejumlah daerah di Sumatra, Nusa Tenggara Barat, dan berbagai daerah sudah menghadirkan layanan wisata ramah Muslim. Azril juga mengatakan istilah Muslim-friendly tourism sudah mengemuka di seluruh dunia. 

Secara meluas, dia lebih menyarankan Kementerian Pariwisata Indonesia maupun media memakai istilah itu, alih-alih sebutan wisata halal. Pasalnya, penggunaan istilah wisata halal bisa dimaknai berbeda sehingga rentan penolakan.

 

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) itu menyarankan lebih berhati-hati menggunakan istilah dalam agama. Terkait wisata halal, bisa ada kesan hendak "menghalalkan" suatu destinasi wisata, padahal bukan itu yang dimaksud.

Menurut Azril, hal yang dipastikan halal dan bisa disertifikasi terkait aspek pariwisata adalah kuliner. Terkait itu, gerai kuliner yang menyediakan makanan halal di destinasi wisata ramah Muslim memang harus disertifikasi sebelum mencantumkan label atau logo halal. 

Selain kehadiran gerai kuliner halal, hal lain yang perlu ada di destinasi wisata ramah Muslim antara lain tempat ibadah yang memadai. Sejumlah destinasi wisata bisa menyediakan tempat sholat, atau memasang label arah kiblat di kamar hotel.

Untuk daerah yang memang memiliki sejumlah destinasi wisata religi juga bisa dioptimalkan. Azril mencontohkan salah satunya, yakni Pulau Penyengat di Kepulauan Riau. Di lokasi itu, terdapat masjid yang konon dibangun dengan bahan putih telur serta mushaf Alquran kuno.

Pria yang mengajar di sejumlah kampus, termasuk Universitas Trisakti dan Universitas Udayana itu, mengatakan hal-hal demikian menjadi daya tarik yang menyedot wisatawan Muslim. Utamanya, turis Muslim yang berdomisili di negara tetangga. 

"Potensinya signifikan sekali, kalau kita lihat yang datang ke Indonesia dari Malaysia termasuk tinggi, selain Australia, Singapura, termasuk juga Brunei Darussalam. Menurut saya, itu harus dijaga," ujar Azril.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement