Selasa 12 Dec 2023 20:49 WIB

Nyuruh Anak Tarik Napas Ketika Marah Agar Tenang, Tepatkah? Ini Kata Ahli

Terapis menyarankan orang tua berhenti menyuruh anak tarik napas ketika marah.

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Qommarria Rostanti
Anak marah (ilustrasi). Menurut terapis, sebaiknya orang tua berhenti menyuruh anak tarik napas ketika marah.
Foto: www.freepik.com
Anak marah (ilustrasi). Menurut terapis, sebaiknya orang tua berhenti menyuruh anak tarik napas ketika marah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama ini, mungkin banyak orang tua yang mendengar saran untuk meminta anak menarik napas saat sedang mengamuk atau marah. Menurut terapis dr Jazmine McCoy, sebaiknya orang tua berhenti meminta anak untuk melakukannya. Mengapa demikian?

Meskipun niat di balik pernyataan tersebut baik, sebenarnya itu perlu dilakukan sendiri. “Keterampilan mengatasi masalah harus dimulai dari diri sendiri. Mereka tidak seharusnya dipaksa. Tidak ada seorang pun yang ingin merasa terkendali, apalagi dengan perasaannya,” katanya.

Baca Juga

Beberapa ahli berpendapat, meminta anak menarik napas saat dia marah bisa saja mengakibatkan ledakan yang lebih besar. Terapis anak Amanda Zaidman berbagi dalam sebuah artikel untuk Constructive Parenting bahwa menggunakan napas untuk membantu Anda menenangkan diri bisa menjadi hal yang sangat menantang, terutama bagi seorang anak.

"Jika anak Anda tidak melakukannya dengan benar, menyuruh anak Anda untuk bernapas saja biasanya akan menyebabkan kemarahan yang lebih besar lagi," ujar dia. 

Lantas apa yang bisa dilakukan orang tua? Ini adalah perubahan yang sangat sederhana. Dr McCoy menyarankan agar Anda mencoba mengatakan sesuatu seperti, “Kita sedang mengalami masa sulit. Saya akan mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan tubuh saya", kemudian tarik napas dalam-dalam.

"Jika mereka bergabung, bagus. Jika tidak, bagus. Namun anak-anak lebih cenderung bergabung dengan kami jika mereka merasa kami melakukan hal tersebut bersama mereka dan hal tersebut bukan sesuatu yang kami paksa untuk mereka lakukan," ucapnya.

Dengan melakukan ini, orang tua tidak lagi terlihat berusaha mengubah atau memperbaiki perasaan anak mereka. Sebaliknya, mereka menunjukkan mekanisme penanggulangan yang berhasil bagi mereka, dengan harapan anak mereka juga akan mulai melakukannya.

Dilansir HuffPost, Selasa (12/12/2023), para ahli sepakat bahwa metode memberi contoh jauh lebih efektif dibandingkan sekadar memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan. Psikiater anak di Vancouver Fulroop Sidhu mengatakan hal ini mengajarkan anak-anak dengan cara yang tidak tertekan.

Dengan mengambil napas saat sedang kesal, anak-anak akan mulai mencontohkannya dan mempelajarinya. Sebagian besar orang tua setuju dengan komentar Dr McCoy. 

"Ini sangat masuk akal dan akan menjadi perubahan yang mudah dilakukan, saya rasa anak saya akan meresponsnya dengan sangat baik," kata salah seorang warganet.

Salah satu orang tua mengatakan bahwa mereka telah menerapkannya dan telah melihat perbedaan nyata pada anak mereka. “Ini adalah nasihat yang mengubah hidup. Sungguh sebuah perubahan yang sederhana. Saya mulai melakukan ini kemarin dan putri saya merespons dengan sangat baik," ucapnya.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement