Jumat 03 Nov 2023 11:03 WIB

Mayoritas Kasus Cacar Monyet di DKI Jakarta Sudah Terjangkit HIV

Semua pasien cacar monyet di DKI adalah pria dan tertular dari kontak seksual.

Pasien cacar monyet (ilustrasi). Menurut Dinkes DKI Jakarta, mayoritas pasien cacar monyet di Jakarta sudah terjangkit HIV.
Foto: Reuters
Pasien cacar monyet (ilustrasi). Menurut Dinkes DKI Jakarta, mayoritas pasien cacar monyet di Jakarta sudah terjangkit HIV.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mengatakan, mayoritas kasus aktif cacar monyet atau mpox di Jakarta sudah positif terjangkit Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan infeksi penyakit seksual. Menurut pihak Dinkes DKI, pasien cacar monyet di Jakarta yang mengetahui terjangkit HIV karena terdiagnosis mpox.

"Ada 24 kasus aktif hingga saat ini mayoritas dengan HIV positif, ada tiga yang tidak memiliki komorbid sama sekali, ada yang HIV negatif, namun dengan sifilis," kata Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ngabila Salama, dalam webinar soal cacar monyet di Jakarta, Kamis (3/11/2023).

Baca Juga

Dia mengatakan, salah satu yang penting setelah terdiagnosis yaitu proses tracing atau penelusuran sebanyak-banyaknya. Khususnya, pada kontak seksual pasien selama 21 hari ke belakang sebelum terdiagnosis, itu menjadi salah satu kunci tidak meluasnya penyebaran cacar monyet.

"Karena pada saat terkena mpox positif secara pararel, Dinkes DKI melakukan pemeriksaan HIV dan infeksi menular seksual lain," kata dia.

 

Di DKI total terdeteksi 25 kasus cacar monyet hingga saat ini. Dan semuanya berjenis kelamin laki-laki yang didominasi bergejala ringan.

"Kasus total 25 orang, semua bergejala ringan, semua tertular dari kontak seksual, semua laki-laki berusia 25-50 tahun, hanya dua kasus 45-70 tahun," ujarnya.

Dari 25 kasus tersebut, satu orang sudah dinyatakan sembuh, sedangkan 24 kasus lainnya merupakan kasus positif aktif yang saat ini masih menjalani perawatan intensif dan isolasi di rumah sakit. Gejala cacar monyet biasanya diawali nyeri kepala kemudian diikuti demam lebih dari 38 derajat celsius dan nyeri tenggorokan dan pembesaran kelenjar getah bening, diikuti munculnya ruam setelah satu atau tiga hari.

Penampakan ruam berupa ruam merah yang jumlahnya sedikit, tersebar secara regional, misalnya di area lengan, kemudian ada di area genital, tungkai dan lainnya. Gejala ini berbeda dengan cacar air yang biasanya ditandai demam hingga 39 derajat Celsius, lalu ruam yang muncul dalam satu waktu bisa bermanifestasi banyak sekali yaitu bisa berupa kemerahan, bintil, lenting, dan ini ada di berbagai fase. Adapun ruam pada cacar air umumnya diikuti oleh rasa subjektif gatal. Angka kematian akibat penyakit ini sangat jarang terutama pada anak-anak.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement