Rabu 25 Oct 2023 22:30 WIB

Dewi Lestari Akui Buku Fiksi Mudah Dibajak

Dewi Lestari menyebut bahwa buku bergenre fiksi paling banyak alami pembajakan.

Penulis Dewi Lestari (Dee).
Foto: Republika/Rossi
Penulis Dewi Lestari (Dee).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penulis buku dan penyanyi Dewi Lestari mengakui bahwa buku bergenre fiksi mudah sekali terkena pembajakan dari pihak yang tidak bertanggung jawab karena diminati banyak orang. "Buku, tidak hanya (buku) sastra, semua jenis buku bisa dibajak, namun, genre buku fiksi paling banyak dibajak," ucap wanita yang disapa Dewi "Dee" Lestari dalam peluncuran Festival Pustaka Sastra Tokopedia di Jakarta, Rabu (25/10/2023).

Dee mengatakan, buku bergenre fiksi paling banyak dibajak karena diminati orang dan sifat ceritanya yang ringan dan menghibur. Pembajakan buku bergenre itu juga banyak dalam bentuk digital yang menurut dia lebih sulit untuk dibedakan dengan asli.

Baca Juga

Dia pun menyadari perkembangan teknologi digital yang membuat semakin sulit mengawasi para pembajak yang semakin lihai dalam meniru buku dan menjualnya secara daring di marketplace. Upaya penghentian pembajakan menurut Dee tidak bisa hanya dari penulis, tapi, harus dengan kerja sama berbagai pihak untuk memelihara ekosistem perbukuan.

"Kalau menurut saya menghentikan pembajakan tidak bisa satu pihak, tidak bisa penerbit atau penulis jadi harus semua ekosistem yang bergerak karena tidak akan selesai-selesai, memang harus jadi sistem yang diperjuangkan," ucap Dee. 

Mantan anggota grup vokal Rida Sita Dewi (RSD) itu pun mengapresiasi berbagai pihak terutama dari toko daring yang menyediakan layanan pengaduan untuk mengatasi pembajakan. Dia menyebut inovasi layanan pengaduan tersebut jadi elemen penting yang juga dapat membantu marketplace dalam mendeteksi buku-buku yang bajakan. 

"Jadi, adanya pihak yang mau mengadukan baik penulis, penerbit, pembaca itu akan sangat membantu marketplace dan itu tanggung jawab saya juga sebagai kreator dan pelaku ekosistem perbukuan," kata Dee.

Dia juga kerap membagikan edukasi kepada pembacanya tentang buku bajakan dalam setiap kesempatan seperti saat gelar wicara, penandatanganan buku karyanya maupun melalui sosial media. Dee pun memberikan beberapa cara untuk mendeteksi buku yang dijual digital adalah bajakan dengan melihat dari mana buku tersebut dirilis dan memperhatikan harga yang dirasa terlalu murah. Buku digital, kata Dee, hanya dikeluarkan oleh penyedia layanan buku digital, misalnya Google Play Store dan Amazon.

Sementara untuk mendeteksi buku palsu di marketplace, pada umumnya buku bajakan dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan buku asli.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement