Jumat 13 Oct 2023 14:45 WIB

Ahli Gizi: Jangan Minum Minuman Manis untuk Hilangkan Dehidrasi

Sumber cairan lain yang bisa dikonsumsi adalah dari buah-buahan.

Air minum (ilustrasi)
Foto: www.freepik.com
Air minum (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ahli gizi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Fitri Hudayani, menyarankan warga untuk tidak minum minuman manis untuk menghilangkan dehidrasi selama musim kemarau di DKI Jakarta.

Ia mengatakan, cuaca panas membuat tubuh banyak berkeringat. Rasa haus pun menjadi indikator meningkatnya kebutuhan cairan dalam tubuh.

Baca Juga

 

"Jika minum minuman kemasan atau yang memiliki rasa untuk menghilangkan rasa haus, konsekuensinya akan meningkatkan asupan gula dalam tubuh," kata Fitri kepada Antara di Jakarta, Jumat (13/10/2023).

 

 

Ia menerangkan, gula adalah sumber karbohidrat yang kemudian dikonversikan menjadi kalori. Apabila kalori dari minuman manis tersebut menambah asupan energi yang sudah didapatkan dari makanan lain, asupan gula murni dan energi dalam tubuh akan meningkat.

 

"Konsekuensinya, nanti gula darah bisa naik, kemudian berat badan juga naik," ujarnya.

 

Selain itu, apabila mengonsumsi karbohidrat berlebihan dan tidak dibakar, akan tersimpan menjadi lemak di dalam tubuh.

 

"Itu berisiko menimbulkan adanya penumpukan lemak di dalam hati," katanya.

 

Ia menegaskan, cairan yang paling baik untuk menghilangkan dehidrasi adalah air putih.

 

"Kalau misalnya dalam kondisi haus, untuk menggantikan cairan tubuh atau agar tubuh lebih nyaman, yang paling baik adalah air putih saja," kata Fitri.

 

Ia menganjurkan untuk minum air putih minimal 2-2,5 liter atau 8-10 gelas sehari. Sumber cairan lain yang bisa dikonsumsi adalah dari buah-buahan yang mengandung air seperti semangka dan makanan yang mengandung kuah seperti sop.

 

Sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk DKI Jakarta, mengalami suhu panas akibat cuaca ekstrem dalam beberapa waktu terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan cuaca panas dengan suhu rata-rata 35-39 derajat Celsius diprediksi hingga awal 2024.

 

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer dari BRIN Eddy Hermawan menjelaskan suhu udara yang menyengat dipengaruhi oleh fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang diprakirakan mencapai puncak pada Oktober 2023.

 

El Nino adalah fenomena pemanasan suhu muka laut di atas kondisi normalnya di Samudra Pasifik bagian tengah. Ia mengatakan, El Nino 3.4 sudah bergerak mendekati wilayah Indonesia dan kondisi itu menyebabkan peningkatan suhu di atas rata-rata.

sumber : ANTARA
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement