Senin 02 Oct 2023 17:28 WIB

Film Indonesia Tayang di Busan International Film Festival, Saatnya Unjuk Gigi

BIFF jadi kesempatan bagi sineas Indonesia untuk unjuk gigi di kancah internasional.

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Qommarria Rostanti
Para sineas yang menghadiri konferensi pers BIFF 2023 di kawasan Jakarta Selatan, Senin (2/10/2023).
Foto: Republika/Meiliza Laveda
Para sineas yang menghadiri konferensi pers BIFF 2023 di kawasan Jakarta Selatan, Senin (2/10/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dunia perfilman Indonesia mendapat kabar gembira dengan ikut berpartisipasinya dalam Busan International Film Festival (BIFF) yang diselenggarakan pada Oktober tahun ini. Film Indonesia yang akan dibawa ke ajang ini di antaranya 24 Jam Bersama Gaspar, Perempuan Tanah Jahanam, Posesif, dan "Gadis Kretek".

BIFF menjadi kesempatan bagi sineas Indonesia untuk unjuk gigi di kancah internasional. Salah satu sineas Indonesia, Mouly Surya, mengatakan, pentingnya bagi para sutradara Indonesia untuk berpartisipasi di berbagai acara festival film internasional.

Baca Juga

"Menurut saya, kesempatan ini bisa membuka wawasan saya sebagai film maker untuk 'bangkit' istilahnya dalam arti kata gaya bercerita dan cara pandang mereka terhadap film saya. Karena ini sangat berbeda dengan cara pandang audiens lokal," kata sutradara Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak ini di kawasan Jakarta Selatan, Senin (2/10/2023).

Selain itu, acara festival film internasional juga sangat penting bagi mereka yang baru berkecimpung dalam dunia perfilman. Selain membuka wawasan baru, bisa juga menambah pengalaman dan melihat banyak orang yang menikmati karya mereka. 

 

"Buat film maker baru sangat penting dengan melihat dan membuka wawasan baru. Apalagi film kita bisa dinikmati banyak orang. Bukan uang bukan segala macam, tapi sangat esensial untuk seorang film maker memamerkan karyanya ke internasional," ujar dia.

Produser 24 Jam Bersama Gaspar Yulia Evina Bhara mengatakan ada tiga alasan mengapa membawa karya lokal ke dunia internasional penting. Pertama, ada sumber keuangan yang bisa diakses dengan pergi ke festival film internasional, tidak hanya datang dari Indonesia. Kedua, membuka kerja sama baru dengan pihak luar. 

"Kedua, kita bisa kerja sama artistik, maksudnya kolaborasi sekarang bisa sama siapa pun. Untuk bisa kerja sama ketemunya di mana? Yang pasti ketemu di festival seperti BIFF ini," kata dia.

Terakhir, dia menyoroti soal distribusi. Artinya, semakin banyak kerja sama yang terjalin, semakin banyak kesempatan film Indonesia didistribusikan ke luar negeri.

"Kalau biasanya kita impor, ini katakanlah kita ekspor film. Mungkin konteksnya tiga itu untuk para produser ada berbagai macam hal yang bisa difollow up," kata dia.

Dalam program khusus BIFF 2023 yang bertajuk "Renaissance of Indonesia Cinema", ada belasan film lokal yang akan ditayangkan. BIFF merupakan ajang festival film terbesar di Asia. Di antara film yang terpilih adalah 24 Jam Bersama Gaspar karya Yosep Anggi Noen, "Gadis Kretek" (Kamila Andini), Perempuan Tanah Jahanam (Joko Anwar), Posesif (Edwin), Sara (Ismail Basbeth), Ziarah (BW Purba Negara), dan What They Don't Talk About When They Talk About Love (Mouly Surya). 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement