Selasa 26 Sep 2023 17:53 WIB

Pakar Jelaskan Mengapa Kebiasaan Begadang Bisa Merusak Jam Tubuh

Saat ini banyak masyarakat yang bekerja di luar jam normal.

Rep: Shelbi Asrianti / Red: Friska Yolandha
Ilustrasi tidur. Ilmuwan meneliti bagaimana bangun hingga larut malam dapat berdampak pada jam tubuh.
Foto: www.freepik.com.
Ilustrasi tidur. Ilmuwan meneliti bagaimana bangun hingga larut malam dapat berdampak pada jam tubuh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak godaan untuk begadang atau terjaga sampai larut malam. Keasyikan bermain gim, menggulir linimasa media sosial, atau menonton film di platform streaming memang sangat menarik dilakukan. Sayangnya, kebiasaan itu bisa berimbas pada jam tubuh.

Dikutip dari laman Study Finds, Selasa (26/9/2023), para ilmuwan mendalami pemahaman tentang bagaimana tetap bangun hingga larut malam bisa memengaruhi ritme alami tubuh. Tim peneliti internasional mencoba menjelaskannya melalui matematika.

Baca Juga

Fokus tim ilmuwan adalah pada ritme sirkadian tubuh, yakni siklus 24 jam yang dijalankan sistem tubuh dan menentukan periode terjaga dan istirahat. Inti dari ritme ini adalah sekelompok neuron di otak yang disebut Nukleus Suprachiasmatic (SCN).

Disebut juga jam utama, cluster itu memainkan peran penting dalam mengoordinasikan ritme internal tubuh lainnya. Banyak hal tentang SCN yang masih menjadi misteri. Untuk mengungkap kompleksitas SCN, peneliti memakai teknik pemodelan matematika dan persamaan diferensial.  

Penulis utama studi, Stéphanie Abo, menjelaskan bahwa dia dan tim memandang SCN dari perspektif makroskopis. Dengan kata lain, SCN dibayangkan sebagai sistem luas yang terdiri dari neuron yang tak terhitung jumlahnya.  

Aspek kunci dari penelitian adalah menguraikan hubungan sistem dan koneksi atau jalur antara neuron-neuron yang memungkinkannya untuk melakukan sinkronisasi dan mempertahankan ritme bersama. Temuan mengungkap bahwa gangguan berkelanjutan pada ritme sirkadian tubuh dapat mengikis ritme bersama.  

Hal itu menunjukkan bahwa sinyal komunikasi antarneuron SCN melemah. Namun, ada beberapa penemuan mengejutkan. Abo menunjukkan bahwa gangguan yang cukup kecil sebenarnya dapat membuat hubungan antarneuron menjadi lebih kuat.

"Model matematika memungkinkan kami memanipulasi sistem tubuh dengan kekhususan yang tidak dapat dicapai dengan mudah atau etis dalam tubuh atau cawan petri. Hal ini memungkinkan kami melakukan penelitian dan mengembangkan hipotesis yang baik dengan biaya lebih rendah," ucap Abo.

Studi telah dipublikasikan di SIAM Journal on Applied Dynamical Systems. Menurut Abo, memahami tentang jam tubuh amat perlu. Sebab, masyarakat saat ini mengalami peningkatan pesat dalam permintaan akan pekerjaan di luar jam kerja normal.

"Ini sangat mengganggu cara kita terpapar cahaya, serta kebiasaan lain seperti pola makan dan tidur," ucap mahasiswa doktoral dalam bidang matematika terapan di Universitas Waterloo di Kanada itu. Jika dibiarkan, gangguan jangka panjang pada ritme sirkadian berdampak buruk pada kesehatan, termasuk risiko diabetes, kehilangan memori, dan berbagai gangguan lainnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement