Kamis 14 Sep 2023 23:23 WIB

Benarkah Kunyit Ampuh Atasi Masalah Pencernaan?

Kunyit dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk mengatasi beragam keluhan.

Rep: Adysha Citra Ramadhani/ Red: Qommarria Rostanti
Kunyit (ilustrasi)
Foto: Flickr
Kunyit (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kunyit merupakan salah satu rempah yang sering dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk mengatasi beragam keluhan. Salah satunya adalah keluhan terkait masalah pencernaan. Benarkah kunyit bisa meredakan masalah pencernaan?

Menurut studi terbaru dalam BMJ Evidence-Based Medicine, kunyit terbukti bisa membantu mengatasi masalah dispepsia atau gangguan pencernaan. Menurut Cleveland Clinic, dispepsia biasanya ditandai dengan munculnya rasa sakit perut, perut terasa sangat penuh, serta kembung pada saat dan setelah makan.

Baca Juga

Studi ini dilakukan dengan melibatkan 150 orang penderita dispepsia sebagai partisipan. Para partisipan ini dibagi ke dalam tiga kelompok.

Kelompok pertama diberikan obat omeprazole dan kelompok kedua diberikan kurkumin untuk mengatasi keluhan dispepsia mereka. Sedangkan kelompok ketiga diberikan kombinasi obat omeprazole dan kurkumin 

 

Kurkumin adalah senyawa biologi aktif yang terkandung di dalam kunyit. Di sisi lain omeprazole merupakan obat yang biasanya diresepkan kepada pasien untuk mengatasi masalah lambung dan kerongkongan, seperti refluks asam dan tukak lambung.

Setelah 28 dan 56 hari, para partisipan diminta untuk menjalani penilaian tingkat keparahan dispepsia yang mereka rasakan. Proses penilaian ini menunjukkan tak ada perbedaan gejala yang signifikan antara partisipan yang mendapatkan omeprazole, kurkumin, atau kombinasi keduanya.

"Selain sebagai antiperadangan dan antioksidan, kurkumin atau kunyit bisa menjadi opsi untuk mengobati dispepsia dengan tingkat efikasi yang sebanding dengan omeprazole," kata ketua tim peneliti Krit Pongpirul MD, seperti dilansir WebMD pada Kamis (14/9/2023).

Meski begitu, orang-orang yang tertarik menggunakan kunyit untuk mengatasi keluhan dispepsia perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Pastikan bahwa konsumsi kunyit tidak akan mengganggu atau berinteraksi dengan obat-obatan lain yang sedang dikonsumsi.

Selain itu, orang-orang perlu mengetahui bahwa konsumsi ekstrak kurkumin juga memiliki efek samping. Sebagian dari risiko efek samping tersebut adalah alergi dan perdarahan.

"Terutama bagi mereka yang menggunakan obat antikoagulan atau antiplatelet," ujar Pongpirul.

Secara umum, kunyit merupakan rempah yang sudah lama digunakan di Asia Tenggara untuk mengatasi masalah pencernaan. Kunyit pun kerap dimanfaatkan untuk mengatasi peradangan dan meringankan depresi hingga infeksi virus. Akan tetapi, belum ada bukti ilmiah yang cukup untuk membuktikan semua klaim manfaat kesehatan dari kunyit. 

Menurut ahli gizi klinis onkologi dari Johns Hopkins Medicine, Mary Eve Brown, kurkumin merupakan senyawa polifenol alami yang terdapat di dalam kunyit. Kurkumin diketahui memiliki sifat antioksidan dan antiperadangan.

"Seperti pangan nabati berwarna lainnya, kunyit kaya akan fitonutrien yang dapat melindungi tubuh dengan cara menetralisir radikal bebas dan melindungi sel-sel dari kerusakan," tukas Brown, seperti dikutip dari laman resmi Johns Hopkins Medicine.

Untuk mendapatkan efek antiperadangan dari kurkumin, Brown mengatakan kunyit bisa ditambahkan ke dalam makanan. Efek antiperadangan dari kurkumin ini dapat membantu meringankan masalah sendi hingga infeksi.

Meski mengonsumsi kunyit bisa memberikan efek menyehatkan, Brown kurang merekomendasikan konsumsi suplemen kunyit. Alasannya, memperbanyak jumlah asupan kurkumin tidak selalu mendatangkan manfaat yang lebih baik. Terlalu banyak mendapatkan asupan kurkumin dari suplemen kunyit justru berisiko memunculkan masalah kesehatan.

Sebagai contoh, lanjut Brown, penggunaan suplemen kunyit bisa meningkatkan risiko batu ginjal. Risiko ini bisa semakin signifikan pada individu dengan riwayat batu ginjal di keluarganya.

"Tantangannya adalah kurkumin dan bahan aktif lain tidak bioavailable, artinya tidak mudah untuk diserap oleh tubuh," ujar Brown.

Oleh karena itu, Brown lebih merekomendasikan asupan kurkumin yang berasal dari kunyit asli. Brown mencontohkan, kunyit bisa dikonsumsi dalam bentuk bumbu yang ditambahkan ke dalam masakan atau diseduh menjadi sajian teh.

Untuk meningkatkan penyerapan kurkumin di dalam tubuh, Brown merekomendasikan agar kunyit dipadukan dengan lada hitam. Brown mengungkapkan bahwa kandungan piperine dalam lada hitam bisa meningkatkan bioavailabilitas dari kurkumin hingga 2.000 persen. 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement