Rabu 13 Sep 2023 17:13 WIB

Datang ke Pesta Seks, Seksolog: Ada yang Marah Hingga Bersimbah Air Mata

Menurut seksolog, pesta seks merupakan fantasi palsu yang berakhir dengan air mata.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Qommarria Rostanti
Topeng (ilustrasi). Seorang seksolog membeberkan yang dia lihat di pesta seks.
Foto: www.freepik.com
Topeng (ilustrasi). Seorang seksolog membeberkan yang dia lihat di pesta seks.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Publik dihebohkan dengan terbongkarnya kasus pesta seks yang dilakukan di sebuah apartemen di Semanggi, Jakarta. Ada sekitar sembilan hingga 10 orang yang terlibat dalam pesta seks itu, termasuk yang berstatus suami-istri. 

Berganti-gantian ketika melakukan hubungan seks dikenal dengan istilah swinging atau bisa juga open marriage (jika mereka sudah menikah). Di dunia Barat, fenomena tersebut dianggap lumrah. 

Baca Juga

Dilansir laman Mirror, pada 2017 pasangan suami istri asal Amerika Serikat yakni Michael dan Holli muncul di hadapan publik. Keduanya berbicara Mereka mengeklaim hal itu justru semakin memperkuat hubungan.

Namun, aktivitas mereka harus dibayar mahal karena Michael dipecat dari pekerjaannya, lantaran kabar swinging yang dilakukannya sampai ke atasan. Mereka juga berhadapan dengan prasangka dari orang-orang yang mereka anggap tidak mengerti dengan swinging.

Seksolog dr Nikki Goldstein menceritakan pengalamannya ketika datang ke pesta seks tertutup. Dia memeluk seorang wanita yang bersimbah air mata karena kekasihnya marah ketika melihat ia dipijat secara erotis oleh pria lain di pesta seks itu.

Menurut dr Nikki, pesta seks merupakan tempat terjadinya banyak kesalahpahaman dan fantasi palsu, serta risiko tinggi seseorang berakhir dengan air mata. Terkadang hati, kepercayaan diri seksual, ego, dan hubungan hancur.

Topik tentang swinging atau menghadiri pesta seks tidak dibicarakan terang-terangan. Menurut dia, ini adalah dunia yang dilindungi oleh privasi dan anonimitas.

Namun, kata dia, banyak pengunjung pesta seks yang tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi. Dr Nikki mengatakan, jika seseorang lebih berpikiran terbuka tentang seks, maka mereka akan mengambil keputusan berdasarkan informasi, bukan hanya sekadar ingin mengeksplorasi hal tabu.

Begitu seseorang memasuki lingkungan itu, banyak yang dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka tidak siap mengatasi perasaannya. Itulah sebabnya komunikasi dan pendidikan adalah suatu keharusan dalam menjalin sebuah hubungan.

Dr Nikki mengatakan, di dalam sana (pesta seks-Redaksi), tidak perlu ada rayuan atau pemanasan. Banyak orang sering kali diperlakukan seperti "sepotong daging" dengan permainan seksual yang dilakukan "semudah" berjabat tangan.

“Saya juga kadang-kadang menemukan kurangnya rasa hormat terhadap orang-orang yang terlibat dalam ‘permainan’ bersama. Ketika fantasi rusak dan air mata keluar, terkadang mereka yang terlibat akan mundur dengan sangat cepat,” ujar dr Nikki.

Dia telah menjelajahi pesta seks dan sudah melihat berbagai tipe kepribadian. Mulai dari para swingers berpengalaman yang mencintai semua orang dan berhubungan seks dengan semua orang, pria egois yang menggunakan ini sebagai alasan untuk tidur lebih banyak dengan wanita, hingga pasutri malang yang takut pasangannya akan berbuat curang di belakangnya jika tidak setuju.

“Ada juga para eksibisionis yang ingin hasrat seksual mereka divalidasi oleh banyaknya orang. Ada juga orang yang benar-benar ingin bermain dan terlibat dalam kesenangan sesaat saja,” kata dia lagi.

Terdapat pula budaya di sekitar pesta seks yang merupakan penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang. Agar bisa begadang semalaman saat berhubungan seks dengan orang asing atau orang yang baru di temui, beberapa orang sering merasa hambatan mereka perlu diturunkan secara kimiawi.

 “Saya pribadi menganggap seks itu sendiri adalah hal yang sakral, tetapi sayangnya hal itu tidak berlaku untuk semua orang. Semakin meningkatnya penggunaan alkohol dan obat-obatan, maka semakin kecil kemungkinan penggunaan ‘perlindungan’,” kata dia.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement