Rabu 06 Sep 2023 20:31 WIB

5 Mitos Penyakit Alzheimer Ini Dibantah Ahli

Alzheimer menjadi salah satu penyakit jenis demesia yang banyak ditemukan di dunia.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah
Ada sejumlah mitos yang dipercaya masyarakat terkait penyakit alzheimer.
Foto: www.pixabay.com
Ada sejumlah mitos yang dipercaya masyarakat terkait penyakit alzheimer.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyakit Alzheimer merupakan jenis demensia yang paling banyak ditemukan di dunia. Meski kasusnya cukup umum, ada sejumlah mitos dan stereotip mengenai penyakit Alzheimer yang masih dipercayai oleh masyarakat.

Kesalahpahaman mengenai penyakit Alzheimer bisa memberikan dampak yang signifikan bagi pasien dan juga pengasuh mereka. Pada pasien, kesalahpahaman mengenai penyakit Alzheimer dapat membuat mereka kesulitan untuk berkomunikasi, merasa terisolasi, hingga stres.

Baca Juga

"Keyakinan yang salah mengenai kapabilitas pasien Alzheimer bisa sangat membahayakan kualitas hidup mereka juga. Mereka mungkin akan membatasi diri dari aktivitas, menciptakan batasan dalam berkomunikasi, serta mengalami perubahan perasaan terhadap diri sendiri," jelas Hannah Karim dari Later Living Marketplace Lottie, seperti dilansir Mirror pada Rabu (6/9/2023).

Sedangkan pada pengasuh, mitos dan stereotip yang keliru mengenai penyakit alzheimer juga dapat membuat mereka merasakan stres yang berlebih. Mereka juga bisa merasakan kelelahan emosional.

Agar terhindar dari beragam dampak negatif ini, Karim menilai orang-orang sebaiknya tidak lagi mempercayai lima mitos dan kesalahpahaman mengenai penyakit Alzheimer. Berikut ini adalah kelima mitos dan kesalahpahaman tersebut.

 

Mitos: Pasien Alzheimer tak Bisa Mengingat Apa Pun

Pikun merupakan salah satu gejala yang umum ditemukan pada kasus penyakit Alzheimer. Akan tetapi, banyak pasien Alzheimer yang masih bisa mengingat kejadian di masa lalu, berpikir dengan jernih, dan mengenali orang lain.

 

Mitos: Menyebut Pasien Alzheimer sebagai Penderita adalah Normal

Sering kali, pasien penyakit Alzheimer disebut sebagai "penderita". Sebutan penderita sebenarnya bisa memberikan efek yang negatif, baik bagi pasien maupun orang-orang terdekat pasien. Alih-alih menyebut "penderita", pasien penyakit Alzheimer sebaiknya disebut sebagai orang dengan Alzheimer atau orang yang hidup dengan demensia.

 

Mitos: Pasien Alzheimer tak Bisa Bersenang-Senang

Menghabiskan waktu berkualitas bersama pasien Alzheimer memang memiliki tantangannya sendiri. Akan tetapi, bukan berarti pasien Alzheimer tak bisa dilibatkan dalam berbagai aktivitas yang menyenangkan atau merelaksasi. Melakukan aktivitas yang menyenangkan atau menenangkan justru dapat membawa dampak yang positif bagi pasien Alzheimer.

 

Mitos: Pengasuh Harus Fokus pada Pasien

Mengasuh pasien Alzheimer merupakan hal yang sangat menantang. Tak jarang, pengasuh justru mengalami kesulitan hingga frustrasi saat merawat pasien Alzheimer, terutama ketika dihadapkan pada situasi di luar kendali mereka.

Para ahli menganjurkan agar pengasuh pasien Alzheimer tak hanya berfokus pada pasien. mereka juga perlu meluangkan waktu untuk merawat diri sendiri, mengelola stres, dan menikmati waktu luang dengan melakukan hal yang disukai.

 

Mitos: Cara Berkomunikasi dengan pasien Alzheimer Harus Berbeda

Banyak orang yang tanpa sadar mengubah cara bicara mereka ketika berkomunikasi dengan pasien Alzheimer. Biasanya, orang-orang menggunakan gaya bicara seperti anak-anak ketika mengobrol dengan pasien Alzheimer.

Perlu dipahami bahwa pasien Alzheimer juga berhak untuk dihormati. Nada bicara seperti anak-anak bisa membuat pasien Alzheimer merasa cemas, marah, atau bahkan kewalahan. Akan lebih baik bila orang-orang menggunakan cara komunikasi yang tenang dan jelas, serta memilih kalimat yang sederhana. Jangan memburu pasien Alzheimer untuk merespons percakapan dengan cepat. Berikan mereka waktu untuk merespons, dan sesekali bantu mereka saat berkomunikasi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement