Jumat 18 Aug 2023 20:38 WIB

IDAI: Polusi Udara Bisa Sebabkan Batuk, Sesak, Hingga Pneumonia pada Anak

Polusi udara memiliki dampak kesehatan berbahaya bagi anak.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Ibu dan anak terpapar polusi udara. Menurut IDAI,, polusi udara memiliki dampak kesehatan berbahaya bagi anak.
Foto: Republika.co.id
Ibu dan anak terpapar polusi udara. Menurut IDAI,, polusi udara memiliki dampak kesehatan berbahaya bagi anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan, polusi udara memiliki dampak kesehatan berbahaya bagi anak. Untuk jangka pendek, anak bisa mengalami batuk dan sesak napas, sementara pada jangka panjang, polusi udara bisa memicu terjadinya pneumonia.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirasi IDAI sekaligus dokter spesialis anak, dr Darmawan Budi Setyanto, menjelaskan, organ paru-paru anak masih dalam tahap tumbuh kembang. Sebab itu, jika terjadi gangguan seperti paparan polusi udara yang buruk, itu dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan anak.

Baca Juga

“Anak-anak memang kelompok yang sangat rentan dan paling terdampak, karena paru-parunya masih dalam tahap tumbuh kembang. Jadi, akan mudah sekali untuk terganggu fungsi saluran napasnya,” kata dokter Darmawan dalam webinar IDAI pada Jumat (18/8/2023).

Ia kemudian menjelaskan dampak kesehatan dari polusi udara yang bisa dialami anak. Menurut dia, dampak langsung atau jangka pendek dari pajanan polusi udara yaitu menyebabkan batuk dan sesak napas, peradangan dan pembengkakan di saluran napas.

“Paparan polusi udara yang buruk juga bisa menurunkan fungsi paru, menyebabkan saluran napas di paru-paru menyempit, kemudian bisa terjadi serangan asma,” kata Darmawan.

Untuk jangka panjang, polusi udara juga bisa memicu pneumonia pada anak. Ini bisa terjadi karena polusi udara menyebabkan kerusakan pada mekanisme saluran napas, yang membuat kuman penyebab pneumonia menjadi lebih mudah masuk.

Dampak jangka panjang lain dari polusi udara termasuk penyakit kardiovaskuler dan paru-paru kronik. “Pada anak-anak, cukup banyak ditemukan yang telah dinyatakan sembuh, tapi sebenarnya tidak benar-benar sembuh, karena ada gejala sesak atau disebut siklus sekuele. Jadi, pasien walaupun sudah pulang dari RS tetap pakai oksigen,” kata Darmawan.

Dia mengimbau orang tua untuk tidak menambah polutan berbahaya lain di dalam rumah. Misalnya polutan dari asap rokok atau produk tembakau lainnya yang mengandung lebih dari 4.000 racun.

Sebagai upaya meminimalkan paparan polutan, ia juga menyarankan orang tua untuk memakaikan masker pada anak jika sedang berada di luar rumah. Masker, kata Darmawan, bisa membantu melindungi anak dari pajanan partikel-partikel kecil yang berbahaya.

Selain itu, dia juga meminta pemerintah untuk melakukan tindakan berkelanjutan untuk menekan polusi udara di berbagai daerah di Jakarta. “Caranya mungkin bisa dengan menciptakan transportasi umum yang lebih nyaman dan kondusif, sehingga masyarakat tidak selalu menggunakan mobil pribadi untuk bepergian,” kata dr Darmawan.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement