Kamis 03 Aug 2023 23:10 WIB

Minuman Bersoda Dapat Tingkatkan Risiko Diabetes Tipe 2, Apa Saja Gejala Penyakitnya?

Mengganti gula dengan pemanis tidak akan membantu orang menurunkan berat badan.

Rep: Santi Sopia/ Red: Reiny Dwinanda
Minuman bersoda (Ilustrasi). Orang yang mengonsumsi pemanis buatan, seperti yang terkandung di minuman bersoda, lebih berisiko terkena diabetes tipe 2.
Foto: Pxhere
Minuman bersoda (Ilustrasi). Orang yang mengonsumsi pemanis buatan, seperti yang terkandung di minuman bersoda, lebih berisiko terkena diabetes tipe 2.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menikmati minuman manis dan segar kerap menjadi pilihan banyak orang, terlebih saat cuaca panas. Tetapi minuman penuh lemak dengan pemanis buatan, yang ditemukan dalam minuman soda seperti diet coke dan permen karet bebas gula, diketahui dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, menurut peringatan para ilmuwan.

Dalam pedoman baru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dinyatakan mengganti gula dengan pemanis tidak akan membantu orang menurunkan berat badan. Alih-alih begitu, pilihan tersebut justru dapat menyebabkan kanker.

Baca Juga

Saran WHO menganjurkan agar orang tidak beralih ke pemanis non-gula seperti aspartam, sakarin, dan stevia. Sebaliknya, mereka harus mempertimbangkan makan makanan dengan gula alami, seperti buah, serta tetap berpegang pada makanan dan minuman tanpa pemanis.

Studi baru, yang diterbitkan dalam Diabetes Journal, menemukan orang yang mengonsumsi pemanis buatan lebih berisiko terkena diabetes tipe 2 dibandingkan dengan mereka yang tidak. Para peneliti menulis bahwa temuan memperkuat bukti bahwa aditif ini mungkin bukan alternatif gula yang aman.

 

"(Itu juga) memberikan wawasan penting dalam konteks evaluasi ulang pemanis buatan yang sedang berlangsung di seluruh dunia oleh otoritas kesehatan," kata peneliti, dikutip dari The Sun, Rabu (3/8/2023).

Ilmuwan Prancis menganalisis pola makan dan kesehatan 105.588 orang selama sembilan tahun. Pada akhir penelitian, 972 peserta telah mengembangkan diabetes tipe 2.

Para ahli menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi antara 16 hingga 18 mg pemanis buatan per hari memiliki peluang 69 persen lebih tinggi untuk mengembangkan kondisi tersebut dibandingkan mereka yang makan dalam kadar lebih sedikit. Sedangkan mereka yang makan dan minum produk dengan kandungan aspartam secara khusus memiliki peluang 63 persen lebih tinggi terkena penyakit tersebut.

Sebuah laporan terpisah dari Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JEFCA) organisasi tersebut merekomendasikan batas harian yang aman untuk aspartam. Batas itu sekitar 40 miligram per kilogram berat badan atau antara sembilan dan 14 kaleng per hari.

Artinya, jika berat badan Anda 70kg, Anda dapat dengan aman mengonsumsi hingga 14 kaleng Diet Coke setiap hari. Pakar independen mengatakan ini tidak berarti orang harus minum sebanyak itu karena dapat menyebabkan masalah lain seperti erosi gigi.

Dokter Duane Mellor, dari Aston University, mengatakan untuk lebih jelasnya ini bukanlah rekomendasi untuk dikonsumsi.

"Asupan tinggi minuman ringan apa pun, termasuk versi diet yang mengandung pemanis, cenderung menyebabkan makanan yang kurang sehat dikonsumsi," jelas dia.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement