Kamis 01 Jun 2023 16:20 WIB

5 Cara Promosi Digital Produk Elektronik

Video pendek cocok untuk produk elektronik yang simpel.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Natalia Endah Hapsari
  Sebelum membuat konten video suatu produk elektronik, harus menguasai dulu produknya dan fungsinya seperti apa./ilustrasi
Foto: Dok Republika
Sebelum membuat konten video suatu produk elektronik, harus menguasai dulu produknya dan fungsinya seperti apa./ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA---Konten telah menjadi salah satu bukti nyata bahwa kemajuan teknologi menghadirkan sebuah medium yang tidak hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga ruang berkreasi dan peluang baru.

Bagi pebisnis yang hendak melebarkan promosi ke dunia digital, seleb dan pemengaruh teknologi, Dhiarcom, memberikan lima langkah membuat konten produk elektronik bagi pemula.

Baca Juga

Ada dua tipe video yakni panjang dan pendek. Video panjang biasanya berdurasi antara lima hingga 20 menit, sementara video pendek hanya berdurasi satu hingga dua menit.

“Video panjang cocok untuk video review yang mengulas detail, seperti smartphone atau laptop. Video pendek cocok untuk produk yang simpel kayak power bank,” ujar Dhiar dalam Bincang Shopee 6.6 Mega Elektronik Sale bertajuk ‘Daya Tarik Kreasi Konten Visual’, digelar di Jakarta, Rabu (31/5/2023).

1. Pahami Produk

Sebelum membuat konten video suatu produk elektronik, harus menguasai dulu produknya dan fungsinya seperti apa. Misalnya power bank, harus diperlihatkan cara penggunaannya seperti apa, dan highlights bagian produk yang menarik. “Misalnya bagian belakang ada kaca transparan. Kita dari awal udah analisa, produk ini bagian-bagian mana aja yang menarik untuk dibuat videonya,” ungkap Dhiar.

 

2. Buat Storyboard

Setelah langkah pertama selesai, baru membuat storyboard. “Biar nggak serabutan. Kita buat kayak fitur utama produknya, lalu buat semacam alur ceritanya,” kata dia.

Bahkan harus dibuat pula kalimat yang akan disuarakan dalam video, biasanya kalimat yang dilontarkan berisi fungsi, cara pemakaian. Setelah itu, tulis juga urutan video yang akan dibuat kontan, dari memperlihatkan produk, unboxing, dan seterusnya.

“Jangan di awal udah kasih unboxing, jadi netizen udah liat duluan. Kita kasih tahu dulu fungsi utamanya apa. Kalau langsung unboxing, takutnya kelamaan untuk masuk ke poin utamanya. Takut orang bosan,” ucap dia.

Pada intinya, dalam storyboard ini kita harus membuat alur cerita video, menyebutkan nama produk, memperlihatkan produk secara detail, dan memeragakan cara pemakaian.

 

3. Set Up Layout Background Video

Ketika membuat bikin video unboxing, biasanya perlu menyediakan meja. “Kalau saran saya, cari warna meja yang solid aja, seperti warna putih dop. Bukan yang glossy, kalau dipantulin cahaya nanti mantul, jadi nggak bagus,” ujar Dhiar.

Kemudian gunakan tripod, jangan pakai tangan. Siapkan juga lighting yang bagus. Ia menyarankan minimal tiga lampu, tetapi untuk langkah awal tidak apa-apa jika hanya menggunakan satu lampu.

Dan siapkan juga microphone. Jangan memakai microphone bawaan kamera atau smartphone, karena suaranya akan bergema. “Lebih baik beli microphone khusus untuk hasil terbaik,” katanya.

 

4. Editing Video

Gunakan format 4k 60fps agar produk bisa terlihat detail, pergerakannya smooth, dan gambar bisa taham meski hendak di-crop atau di-zoom. Fokus pada produk, dan jangan terlalu banyak ornamen di sekeliling produk.

Menurut Dhiar, boleh menampilkan wajah saat di awal video, selebihnya fokus pada video. Kemudian, mainkan sudut pandang dengan mendekatkan kamera pada produknya.

Lalu agar menarik, sertakan juga background musik dan sound effects. “Baru kita isi suara atau voice over. Jadi bukan saat kita syuting ada suara, nggak. Tapi selesai syuting baru kita isi suara,” ucap dia.

 

5. Upload dan Publish Video

Sebelum diunggah, penting juga membuat dua versi video, pertama siapkan video pendek satu menit untuk Youtube short dan media sosial lain. Baru kemudian buat versi panjang yang memang untuk video review produk.

Kemudian buat judul, caption, dan hastag yang sesuai dengan produknya. Unggah video secara konsisten, sembari terus mempelajari kunci algoritma media sosial.

“Video yang nggak buru-buru di-skip atau ditinggal orang, itu disukain algoritma. Apalagi kalau sampai diulang-ulang, itu algoritma seneng banget nge-push videonya untuk disebar lagi,” katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement