Sabtu 29 Apr 2023 10:33 WIB

Makanan yang Sebaiknya tak Dibeli di Supermarket, Berpotensi Mengandung Kuman Berbahaya

Ada beberapa makanan dan minuman yang berpotensi mengandung kuman berbahaya.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Qommarria Rostanti
Susu mentah (ilustrasi). Ada beberapa makanan dan minuman yang sebaiknya tak dibeli di pasar swalayan.
Foto: Pixabay
Susu mentah (ilustrasi). Ada beberapa makanan dan minuman yang sebaiknya tak dibeli di pasar swalayan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar keamanan pangan mengungkap sejumlah makanan yang sebaiknya tak dibeli di supermarket (pasar swalayan) atau toko bahan makanan. Alasannya, makanan atau minuman tersebut berpotensi mengandung kuman berbahaya yang berdampak buruk bagi kesehatan.

Bisa juga karena pemrosesan, pengemasan, dan penyimpanan bahan makanan yang kemungkinan tak sesuai standar. Berikut empat makanan dan minuman tersebut, dikutip dari laman HuffPost, Sabtu (29/4/2023).

Baca Juga

1. Susu mentah

Menurut pakar keamanan pangan Amerika Serikat, konsumen sebaiknya tidak membeli susu mentah yang belum dipasteurisasi. Pasteurisasi susu merupakan proses pemanasan untuk membunuh patogen, memperpanjang umur simpan, dan membuat minuman lebih aman untuk dikonsumsi.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menyampaikan, susu mentah berpotensi mengandung kuman berbahaya seperti salmonella, E coli, listeria, brucella, dan banyak lagi. Ada banyak orang yang menggembar-gemborkan manfaat kesehatan susu mentah, tetapi itu tidak sepadan dengan risikonya.

"Banyak organisme patogen yang hidup di dalam susu mentah," kata ahli kimia makanan dan konsultan industri Bryan Quoc Le.

2. Kecambah mentah

Kecambah memang sehat, tetapi mengingat makanan tersebut dapat menjadi sumber bakteri berbahaya seperti E coli dan salmonella, penting untuk cermat saat membeli kecambah mentah. Sebelum dikonsumsi, kecambah mentah harus dicuci secara menyeluruh dengan air.

"Kemungkinan kontaminasinya tidak terlalu tinggi, ini lebih merupakan risiko sedang, tetapi saya pribadi akan menghindarinya," ujar Quoc Le.

3. Konter makanan panas

Pasar swalayan besar biasanya memiliki konter yang menjual makanan untuk langsung disantap. Para ahli kurang merekomendasikan membeli makanan di sana karena ada kemungkinan makanan disimpan terlalu lama atau proses penyimpanan tidak sesuai standar.

Menurut aturan, semua makanan di konter sejenis harus disimpan pada suhu panas 57,2 derajat Celsius atau lebih tinggi serta pada suhu dingin lima derajat Celsius atau lebih rendah. Tujuannya, untuk menangkis potensi pertumbuhan bakteri dengan baik.

"Jika sistem pemanasnya dipertanyakan, saya akan menghindarinya, tetapi jika yakin makanan disimpan di suhu yang tepat maka boleh saja memakannya," kata Quoc Le.

4. Buah potong

Profesor Kali Kniel, ahli mikrobiologi di Universitas Delaware, menganjurkan untuk tak membeli buah potong di pasar swalayan. Khususnya, buah melon potong yang disebut Kniel paling rentan terhadap kontaminasi bakteri, akibat proses tanam dan panen.

Selain itu, pembeli tidak mengetahui proses pengupasan dan pemotongan buah sehingga ada kemungkinan tahapannya kurang higienis. Jika tetap ingin membeli buah potong di pasar swalayan, disarankan mencuci buah sebelum dikonsumsi dan segera dimakan setelah pembelian.

Sebagai tips tambahan, Kniel menyarankan mencuci tas belanja yang dapat digunakan kembali untuk menghindari kontaminasi silang. Jika melihat makanan kemasan yang bungkus atau kalengnya penyok, dia menyarankan untuk tidak memasukkannya ke troli.

Periksa tanggal penjualan pada paket produk segar untuk mengetahui kapan kualitasnya mulai menurun. Mengenai buah, disarankan tidak memilih buah yang memar. Selain itu, pilih kemasan makanan yang bebas jamur dengan memeriksa bagian bawah wadah.

"Dalam hal keamanan pangan, jika produk daging atau makanan laut berbau 'tidak enak' atau terlalu amis maka bisa rusak dan itu harus dihindari," kata Kniel.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement