Jumat 21 Apr 2023 12:51 WIB

Pasangan Punya Kecerdasan Emosional Rendah Jika Tunjukkan Ciri-Ciri Ini

Orang dengan kecerdasan emosional rendah sering menyela dan mendominasi percakapan.

Rep: Desy Susilawati/ Red: Qommarria Rostanti
Pasangan suami istri (ilustrasi). Pasangan yang memiliki kecerdasan emosional yang baik dinilai akan bermanfaat bagi hubungan rumah tangga.
Foto: www.rawpixel.com
Pasangan suami istri (ilustrasi). Pasangan yang memiliki kecerdasan emosional yang baik dinilai akan bermanfaat bagi hubungan rumah tangga.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kecerdasan emosional (EQ) yang baik dinilai akan bermanfaat bagi hubungan dengan suami atau istri dalam berbagai cara. Kecerdasan emosional yang dimaksud, di antaranya kemampuan mengidentifikasi, memproses, dan mengomunikasikan emosi Anda, serta mengenali dan memahami emosi orang lain.

Berikut ini adalah enam tanda yang menunjukkan bahwa pasangan Anda kurang memiliki kecerdasan emosional yang baik:

Baca Juga

1. Mereka tidak memvalidasi perasaan Anda

Ketika Anda sedang kesal, bagaimana reaksi pasangan? Apakah dia mengakui dan menerima perasaan, dan membuat Anda merasa didengarkan dan dipahami? Atau apakah mereka mengabaikan Anda, menolak untuk memvalidasi, dan mengabaikan apa yang Anda alami?

Menurut seorang terapis pernikahan dan keluarga berlisensi dan peneliti hubungan di Hily, Marisa T Cohen, ketidakmampuan untuk memvalidasi emosi adalah tanda klasik kecerdasan emosional yang rendah. "Ini mungkin menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain," ujar pekerja sosial berlisensi di Absolute Awakenings, Candace Kotkin-De Carvalho.

2. Tidak bisa menenangkan diri

Jika tampaknya hal-hal kecil dapat memicu ledakan emosi pasangan yang tidak terkendali, itu mungkin merupakan tanda bahwa mereka memiliki kecerdasan emosional yang rendah. Menurut psikoterapis klinis dan CEO dari Holistic Wisdom, Lisa Lawless, pasangan dengan EQ rendah mungkin kesulitan mengatur emosi dan menenangkan diri. Akibatnya, Anda mungkin melihat pasangan bereaksi seperti anak-anak, mengamuk ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginan.

"Mereka mungkin sering bereaksi terhadap situasi dengan kemarahan dan agresi," tambah Kotkin-De Carvalho seperti dilansir laman Best Life, Jumat (21/4/2023).

3. Berperilaku tidak sensitif

Apakah pasangan kadang-kadang membuat lelucon dan komentar yang tidak tepat waktu atau tidak sopan, dan kemudian tampak bingung ketika orang tersinggung? Menurut Kotkin-De Carvalho, ini mungkin karena mereka kesulitan memahami emosi orang lain.

"Ketidakmampuan mereka untuk 'membaca suasana' sering kali dapat menyebabkan rasa malu," kata psikoterapis dan pembawa acara Radio Lifeology, James Miller. 

4. Bukan pendengar yang baik

Jika pasangan terus-menerus tampak teralihkan perhatiannya saat Anda berbicara atau menyela Anda, itu bisa menjadi tanda kecerdasan emosional yang rendah. "Ini menunjukkan kurangnya empati dan rasa hormat terhadap perasaan dan pendapat orang lain," ujar Lawless.

Orang dengan EQ rendah umumnya mendominasi percakapan. Sekali lagi, ini menandakan kurangnya kesadaran diri dan empati.

5. Selalu berusaha untuk "memperbaiki" masalah Anda, bahkan saat Anda tidak menginginkannya

Misalnya, Anda pulang ke rumah setelah hari yang buruk di tempat kerja dan curhat kepada pasangan. Alih-alih mengatakan "kedengarannya buruk, saya menyesal denga apa yang kamu rasakan", pasangan malah langsung ke mode "perbaiki" (memberi tahu Anda apa yang seharusnya Anda katakan kepada klien atau bagaimana Anda perlu menangani kolega).

Itu mungkin bukan yang Anda inginkan atau butuhkan dari mereka. Namun jika mereka memiliki kecerdasan emosional yang rendah, mungkin hanya itu yang dapat mereka tawarkan.

7. Selalu mengalihkan kesalahan

Menurut Miller, pasangan dengan kecerdasan emosional rendah mungkin kesulitan mengambil tanggung jawab atas tindakannya. "Jauh lebih mudah untuk menyalahkan orang lain karena tidak ada wawasan tentang motivasi atau konsekuensi alami dari perilaku mereka," katanya. Penolakan untuk mengakui peran mereka dalam suatu situasi mungkin disebabkan oleh ketidakmampuan, untuk mengelola dan memproses perasaan bersalah dan malu sebagai tanggapan atas kesalahan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement