Kamis 09 Mar 2023 18:51 WIB

Kurang Tidur Bikin Nafsu Makan Bertambah dan Berujung Obesitas

Kurang tidur dapat meningkatkan kemungkinan orang makan secara berlebihan.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Qommarria Rostanti
Obesitas (ilustrasi). Seseorang yang kurang tidur memiliki risiko lebih tinggi terkena obesitas.
Foto: www.freepik.com
Obesitas (ilustrasi). Seseorang yang kurang tidur memiliki risiko lebih tinggi terkena obesitas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keberhasilan penurunan berat badan ternyata tak hanya dipengaruhi oleh pengaturan pola makan dan olahraga. Kecukupan tidur juga memiliki peran yang signifikan dalam proses penurunan berat badan.

Beberapa studi telah menunjukkan bahwa kurang tidur bisa menyebabkan terjadinya gangguan metabolik, seperti peningkatan indeks massa tubuh (IMT) dan berat badan yang lebih besar. Hal serupa juga kembali ditemukan dalam sebuah studi terbaru yang dipresentasikan dalam American Heart Foundation's Epidemiology, Prevention, Lifestyle, and Cardiometabolic Health Scientific Sessions 2023.

Baca Juga

Studi terbaru ini berhasil menemukan adanya hubungan antara kualitas tidur dan kepatuhan seseorang dalam menjalani program penurunan berat badan. Menurut studi ini, orang-orang yang memiliki kualitas tidur lebih baik cenderung lebih konsisten atau patuh dalam menjalankan rencana penurunan berat badan.

Sebaliknya, kurang tidur dapat meningkatkan kemungkinan orang-orang untuk makan secara berlebihan. Kondisi ini juga kerap memicu orang-orang untuk memilih jenis makanan yang tidak sehat. Dengan kata lain, kurang tidur bisa membuat orang-orang menjadi lebih berisiko terhadap obesitas.

 

Menurut para ahli, hubungan antara kualitas tidur dan masalah berat badan berlebih berkaitan dengan hormon. Mereka mengungkapkan bahwa kurang tidur akan mengganggu produksi homron yang normal. Gangguan pada produksi hormon ini memicu terjadinya makan berlebih.

Seperti diketahui, ada dua hormon yang berperan dalam mengatur rasa lapar dan nafsu makan. Salah satu dari hormon tersebut adalah ghrelin yang berkaitan dengan rasa lapar. Hormon lainnya adalah leptin yang berkaitan dengan rasa kenyang.

Berdasarkan beragam studi, kurang tidur dapat memicu terjadinya peningkatan hormon ghrelin. Hal ini membuat orang-orang yang kurang tidur cenderung memiliki nafsu makan yang lebih besar.

Menurut para ahli, tidur yang berkualitas juga dapat membantu memperbaiki sinapsis. Sinapsis yang lebih baik turut berperan dalam memperbaiki perilaku menurut para ahli, seperti dilansir The Healthy Site.

Dengan tidur yang berkualitas, orang-orang akan memiliki lebih banyak energi. Mereka pun akan lebih mudah utuk fokus terhadap program penurunan berat badan yang sedang mereka lakukan.

Sebaliknya, kurang tidur bisa mempengaruhi bagian otak yang mengatur bagaimana seseorang berpikir mengenai makanan. Menurut studi-studi yang sudah ada sebelumnya, aktivitas otak pada orang yang kurang tidur cenderung meningkat pada area otak yang menganggap makanan sebagai sebuah reward atau hadiah positif. Hal ini dapat membuat orang tersebut lebih rentan terhadap dorongan makan berlebih.

Studi terbaru ini dilakukan dengan melibatkan 125 orang dewasa bertubuh obesitas. Para partisipan yang terlibat dalam studi ini memiliki rerata usia 50 tahun.

Selama studi berlangsung, tiap partisipan diminta untuk menjalani program penurunan berat badan selama 12 bulan. Para partisipan lalu diminta untuk mengisi kuesioner sebanyak tiga kali, yaitu di awal studi serta enam bulan dan 12 bulan setelah menjalani program penurunan berat badan.

Tim peneliti juga memantau kepatuhan para partisipan selama menjalani intervensi penurunan berat badan. Sebagai contoh, memantau asupan kalori dan aktivitas fisik yang dilakukan para partisipan.

Dari beragam data inilah, tim peneliti menemukan bahwa kualitas tidur berperan signifikan dalam menentukan keberhasilan penurunan berat badan. Para partisipan yang mendapatkan tidur yang cukup memiliki kemungkinan lebih besar untuk patuh dan menjalankan program penurunan berat badan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement