Selasa 07 Mar 2023 18:04 WIB

Agar Anak tak 'Kecanduan' Junk Food, Ini yang Bisa Dilakukan Orang Tua

Orang tua perlu mengenalkan protein hewani pada anak sejak masa pemberian MPASI.

Junk food (ilustrasi). Orang tua dapat melakukan beberapa cara agar anak tidak kecanduan junk food.
Foto: Flickr
Junk food (ilustrasi). Orang tua dapat melakukan beberapa cara agar anak tidak kecanduan junk food.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) menyarankan, orang tua harus mencukupi kebutuhan asupan protein hewani dan serat dari sumber alami untuk anak-anak. Dengan begitu, anak tidak menyantap camilan rendah nutrisi atau junk food.

Menurut dia, protein hewani seperti telur dan ikan yang kemudian diolah menjadi makanan tradisional semisal pindang telur, rendang, dan lainnya; serta sumber serat misalnya sayuran hijau serta buah-buahan termasuk memiliki indeks glikemik rendah. Ini membuat seseorang kenyang lebih lama.

Baca Juga

"Makanan tradisional dari real food ini akan mengenyangkan, kenyangnya lama dan kalau sudah kenyangnya lama dia tidak akan snacking (yang tidak sehat)," ujar Piprim dalam sebuah diskusi media secara daring, Selasa (7/3/2023).

Piprim mengingatkan orang tua untuk mengenalkan protein hewani pada anak sejak masa pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Selain membantu mencegah anak terkena obesitas, hal itu juga mengatasi stunting atau kondisi perkembangan otak dan tumbuh kembang anak yang terhambat akibat kekurangan gizi kronis pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).

Jenis makanan sendiri sangat berpengaruh pada perilaku makan berlebih atau overeating dan obesitas. Studi sejak 24 tahun lalu dengan melibatkan anak-anak memperlihatkan partisipan yang diberi makanan indeks glikemik tinggi, gula darahnya meningkat dan turun secara cepat. Begitu juga dengan insulinnya.

"Indeks lapar anak-anak yang mendapat makanan indeks glikemik tinggi itu lebih cepat lapar maka energy cumulative intake-nya jadi tinggi. Sedangkan anak yang diberi makanan dengan indeks glikemik rendah, hunger rating-nya rendah atau tidak gampang lapar," jelas Piprim.

Menurut Kementerian Kesehatan, indeks glikemik (IG) merupakan indikator cepat atau lambatnya unsur karbohidrat dalam bahan pangan meningkatkan kadar gula darah dalam tubuh. Studi yang dipublikasikan melalui JAMA Network tahun 2007 menunjukkan, makanan dengan indeks glikemik tinggi meningkatkan kadar glukosa darah secara signifikan sehingga meningkatkan permintaan insulin.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan masalah pada pankreas yang pada akhirnya dapat menyebabkan diabetes. "Indeks glikemik kalau makin tinggi itu makanan yang begitu dimakan langsung jadi gula seperti instant oatmeal, susu. Junk foodultra processed food yang tinggi gula selain membahayakan kesehatan ini bikin anak kecanduan," kata Piprim.

Makanan indeks glikemik tinggi juga dikatakan dapat meningkatkan penyimpanan lemak dan meningkatkan risiko obesitas. Pada kondisi obesitas, terjadi penumpukan lemak akibat kelebihan kalori dalam bentuk lemak.

Lemak kemudian menumpuk pada daerah tubuh yang seharusnya tidak ada lemak seperti selaput luar jantung, di dalam otot jantung dan hati yang dapat berujung masalah kesehatan seperti penyakit jantung dan hati.

 

sumber : Antara

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement