Kamis 23 Feb 2023 23:05 WIB

Dokter Ungkap 3 Faktor Penyebab Anak Kena DBD

Waspadai beraktivitas di luar rumah karena nyamuk DBD menggigit dari jam 7 pagi.

Pasien demam berdarah dengue atau DBD (ilustrasi). Dokter mengungkapkan tiga faktor yang menyebabkan anak terkena DBD.
Foto: Republika
Pasien demam berdarah dengue atau DBD (ilustrasi). Dokter mengungkapkan tiga faktor yang menyebabkan anak terkena DBD.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter spesialis anak konsultan infeksi dan penyakit tropis Prof Dr dr Hinky Hindra Irawan Satari mengatakan ada tiga faktor penyebab anak terkena demam berdarah dengue (DBD) yakni daya tahan tubuh, virus, dan lingkungan.

"Kaidah infeksi sampai terjadi penyakit itu karena ada gangguan keseimbangan antara daya tahan tubuh seseorang, jenis serta kepadatan virusnya, dan lingkungannya," kata Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Kamis (23/2/2023).

Baca Juga

Ia mengatakan, ada empat jenis virus dengue yakni tipe 1, tipe 2, tipe 3, dan tipe 4. Virus dengue tipe 2 dan 3 yang biasanya menyebabkan DBD berat.

Sementara itu, lingkungan yang dimaksud Hinky adalah lingkungan yang disukai oleh nyamuk aedes aegypti seperti kebun, genangan air jernih, dan baju yang digantung.

 

Ketika nyamuk Aedes aegypti betina menggigit, Hinky mengatakan sistem kekebalan tubuh akan melakukan reaksi kekebalan yang ditandai dengan demam tinggi secara mendadak. "Demamnya tiba-tiba tinggi, dikasih obat paracetamol mungkin turun dalam empat jam lalu naik lagi. Kemudian anak jadi lemas, terlihat seperti sakit berat, tidur terus, enggak mau makan, enggak mau minum, muntah-muntah," ujar Hinky.

Menurut dia, anak juga bisa mengalami sakit otot, sakit sendi dan tulang, sakit kepala, hingga sakit belakang mata. Hinky mengatakan, kondisi tersebut dinamakan sebagai fase demam atau fase akut yang biasanya berlangsung selama satu hingga tiga hari.

Kemudian pada hari keempat dan kelima, Hinky mengatakan virus dalam tubuh sudah hilang dan demam pun menurun, yang kadang membuat orang tua terkecoh mengira anak sudah sembuh. Padahal, fase ini merupakan fase kritis di mana terjadi kebocoran pembuluh darah dan penurunan trombosit.

"Ini harus dikasih cairan. Bocornya pembuluh darah itu kan kayak dehidrasi, karena cairan di pembuluh darah keluar dari jaringan. Ini membuat anak mual, kemudian cairan yg masuk ke rongga perut akan menekan diafragma, menekan lambung, bahkan bisa ke paru-paru menyebabkan anak sesak nafas. Bisa juga membuat hati membesar. Anak juga enggak pipis-pipis dalam 4-6 jam," jelas Hinky.

"Kalau terlambat, anak bisa pendarahan dan kalau sudah pendarahan biasanya tidak tertolong," ujarnya.

Namun jika diberi cairan dan mau makan dan minum, anak akan masuk ke fase penyembuhan pada hari keenam dan ketujuh yang ditandai dengan demam dan banyak buang air kecil serta munculnya ruam. Untuk mencegah anak terjangkit DBD, Hinky mengatakan orang tua harus memastikan anak memiliki daya tahan tubuh yang baik serta mengendalikan nyamuk Aedes aegypti.

"Jangan sampai digigit nyamuk, mau pakai insect repellent boleh, lalu waspada saat beraktivitas di luar rumah karena dia menggigit dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Jangan ada baju yang digantung. Jangan ada air menggenang karena nyamuknya menyimpan jentik di situ. Jangan pakai bak mandi, tapi pakai shower kalau memungkinkan," ujar Hinky.

Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta dr Ngabila Salama mengatakan, pencegahan demam berdarah juga dapat dilakukan dengan Gerakan 1 Rumah 1 Kader Jumantik. "Pelihara juga ikan cupang dan tanaman yang tidak disukai jentik dan nyamuk seperti lemon balm, catnip, kemangi, lavender, peppermint, rosemary, marigold, dan geranium," kata dia.

 

 

 

 

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement