Rabu 01 Feb 2023 17:34 WIB

Makan Telur Turunkan Risiko Penyakit Kardiovaskular Hingga 60 Persen, Menurut Penelitian

Konsumsi telur harus diimbangi dengan diet sehat untuk melihat manfaatnya.

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Qommarria Rostanti
Makan telur dapat memiliki dampak positif yang cukup besar pada kesehatan jantung. Menurut penelitian, mengunyah antara satu dan tiga telur per pekan menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 60 persen. (ilustrasi).
Foto: www.freepik.com
Makan telur dapat memiliki dampak positif yang cukup besar pada kesehatan jantung. Menurut penelitian, mengunyah antara satu dan tiga telur per pekan menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 60 persen. (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Makan telur dapat memiliki dampak positif yang cukup besar pada kesehatan jantung. Menurut penelitian, mengunyah antara satu dan tiga telur per pekan menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 60 persen.

Penyakit kardiovaskular merujuk pada segala kondisi yang memengaruhi jantung atau pembuluh darah, dengan penyakit jantung koroner dan strok di antara penyebab utama kematiannya. Namun seperti banyak kondisi medis lainnya, risiko penyakit kardiovaskular dapat diturunkan dengan gaya hidup sehat.

Baca Juga

National Health Services (NHS) di Inggris mengatakan, bukti kuat menunjukkan bahwa kolesterol tinggi dapat meningkatkan risiko penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis), serangan jantung, dan strok. Risiko kesehatan tambahan termasuk penyakit arteri perifer dan mini strok.

Menurut British Heart Foundation, terlalu banyak kolesterol jahat dan zat lain dapat membentuk endapan (plak) yang menumpuk di arteri Anda. Kondisi tersebut meningkatkan risiko Anda terkena kondisi seperti penyakit jantung koroner, serangan jantung dan strok.

 

Bahaya penyakit-penyakit tersebut bisa diminimalisasi dengan mengurangi jumlah makanan berlemak dan memperbanyak asupan buah dan sayur. Namun, ada yang kurang diketahui yaitu terkait bagaimana makan telur bisa memainkan peran penting dalam menangkal penyakit kardiovaskular.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients menemukan, makan antara satu dan tiga butir telur sepekan tampaknya melindungi dari penyakit. Dilansir Metro, Selasa (31/1/2023), sebuah studi terhadap lebih dari 3.000 orang dewasa menemukan bahwa mereka yang makan dalam jumlah ini 60 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan penyakit kardiovaskular.

Sebanyak 3.042 pria dan wanita dari Yunani ikut serta dalam uji coba tersebut. Penelitian menyoroti survei tentang berapa banyak telur yang mereka makan per pekan, baik secara keseluruhan atau sebagai bagian dari resep. Setelah satu dekade berlalu, 317 dari mereka telah mengalami penyakit kardiovaskular selama waktu itu.

Orang yang makan satu atau lebih sedikit telur dalam sepekan memiliki tingkat kejadian penyakit kardiovaskular 18 persen. Sedangkan orang yang mengonsumsi satu hingga empat butir telur sepekan memiliki tingkat kejadian sembilan persen, dengan mereka yang makan empat hingga tujuh butir sepekan delapan persen.

Studi ini menemukan, peserta yang makan satu sampai tiga telur sepekan memiliki risiko 60 persen lebih rendah terkena penyakit kardiovaskular. Mereka yang makan empat sampai tujuh telur sepekan memiliki risiko 75 persen lebih rendah. Namun, jika mempertimbangkan potensi asupan asam lemak jenuh (SFA), disimpulkan bahwa makan satu hingga tiga butir telur sepekan lebih aman.

“Dalam kasus konsumsi SFA yang lebih tinggi, hanya satu hingga tiga butir sepekan tampaknya melindungi dari penyakit kardiovaskular," tulis studi tersebut.

Penulis penelitian mengakui bagaimana perdebatan seputar telur dan kesehatan bisa menjadi kontroversial. “Telur tetap menjadi salah satu makanan yang paling kontroversial karena asam lemak jenuhnya (tiga gram/100 gram) dan kandungan kolesterol (370mg/100g) beserta komposisinya, yang kaya akan protein berkualitas tinggi, zat besi, vitamin yang larut dalam lemak, mineral, dan karotenoid,” tulis makalah itu.

Dia memperingatkan, konsumsi telur harus diimbangi dengan diet sehat untuk melihat manfaatnya. Hal ini sejalan dengan temuan dari studi kohort yang dilaksanakan di Italia, di mana efek yang memberatkan dari peningkatan konsumsi telur terutama dimediasi oleh asupan kolesterol makanan secara keseluruhan.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement