Selasa 29 Nov 2022 16:30 WIB

Mia Farrow Ungkap Pengalaman tak Terlupakan Saat Terkena Polio

Aktris Mia Farrow terkena polio pada saat berusia sembilan tahun.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda
Aktris Mia Farrow (tengah) yang merupakan UNICEF goodwill ambassador berada di antara anak-anak pengungsi Suriah di kantor UNICEF, Wadi Khaled, utara Lebanon, 14 Januari 2013. Farrow merupakan penyintas polio.
Foto: Reuters/Roula Naeimeh
Aktris Mia Farrow (tengah) yang merupakan UNICEF goodwill ambassador berada di antara anak-anak pengungsi Suriah di kantor UNICEF, Wadi Khaled, utara Lebanon, 14 Januari 2013. Farrow merupakan penyintas polio.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktris Mia Farrow merupakan penyintas polio yang kerap memperjuangkan upaya eradikasi polio. Meski infeksi polionya sudah terjadi puluhan tahun lalu, aktris The Great Gatsby itu masih mengingat dengan jelas pengalaman yang dia harus lalui akibat polio.

"Apa yang saya lihat, tak akan saya lupakan, baik di rumah sakit maupun di ruang perawatan publik untuk penyakit menular," jelas Farrow, seperti dilansir Express, Selasa (29/11/2022).

Farrow terpapar oleh polio pada musim panas 1954, ketika dia masih berusia sembilan tahun. Kala itu, vaksin polio belum ditemukan.

"Satu tahun setelah saya terkena polio, vaksin (polio) yang baru dirilis, orang tua berbondong-bondong mengantarkan anak mereka vaksinasi," ujar Farrow yang pernah menikah dengan penyanyi legendaris Frank Sinatra.

Di usianya yang masih sangat kecil, Farrow harus menanggung rasa sakit yang sangat hebat di area tulang belakang dan kakinya akibat polio. Penyakit tersebut juga sempat membuatnya kehilangan kemampuan untuk berjalan dan bernapas dengan baik. Kondisi ini membuat Farrow harus dirawat di unit isolasi rumah sakit selama tiga pekan, seperti dilansir New York Post.

Setelah menyelesaikan masa karantina, Farrow kembali ke rumah dengan kondisi yang tak kalah mengejutkan. Seperti dilansir Insider, seluruh barang-barang miliknya telah dibakar habis demi mencegah penularan di lingkungan tempat tinggalnya.

Anak angkat Farrow, Thaddeus Farrow, juga sempat bergelut dengan polio. Thaddeus pertama kali ditemukan oleh rekan Farrow saat berkunjung ke panti asuhan di India. Kala itu, rekan Farrow menemukan Thaddeus dalam posisi merayap di lantai tanpa menggunakan kakinya.

Mengetahui hal tersebut, Farrow tergerak untuk menyelamatkan dan mengadopsi Thaddeus. Bila Farrow tak mengambil langkah itu, Thaddeus mungkin tak bisa diselamatkan.

Saat membawa pulang Thaddeus, Farrow baru menyadari bahwa masih sangat sedikit orang yang memahami soal polio. Sejak wabah polio teratasi pada tahun 50-an di Amerika Serikat, polio tak lagi banyak diberitakan oleh media.

Berbagai pengalaman ini menggerakkan Farrow untuk terlibat aktif dalam upaya eradikasi polio dari dunia. Sebagai Goodwill Ambassador UNICEF, Farrow juga terus mengkampanyekan vaksinasi polio ke berbagai negara.

"Saya mungkin lebih termotivasi dibandingkan sebagian besar orang karena saya sendiri pernah terkena polio," kata Farrow.

Mengenal Polio

Polio merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi poliovirus. Penularan polio umumnya terjadi melalui kontak dengan kotoran orang yang terinfeksi.

"Misalnya, (kontak terjadi) karena tak mencuci tangan dengan benar dan memasukkannya ke mulut Anda," jelas National Health Service di Inggris.

Selain itu, penularan polio juga bisa terjadi lewat konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi. Penularan pun dapat terjadi melalui paparan batuk atau bersin dari orang yang terinfeksi.

"Namun itu (penularan lewat batuk dan bersin) lebih jarang terjadi," ujar NHS.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement