Rabu 28 Sep 2022 19:30 WIB

Alarm Buat Perokok: Makin Banyak yang Kena Serangan Jantung di Usia Muda

Mayoritas penderita serangan jantung di usia muda ialah perokok.

Rep: Santi Sopia/ Red: Reiny Dwinanda
Nyeri dada (ilustrasi). Nyeri dada hebat dapat menjadi gejala serangan jantung. Perokok berisiko tinggi mengalami serangan jantung.
Foto: www.freepik.com.
Nyeri dada (ilustrasi). Nyeri dada hebat dapat menjadi gejala serangan jantung. Perokok berisiko tinggi mengalami serangan jantung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Penderita serangan jantung di Indonesia lebih muda daripada di Amerika dan Eropa yang rata-rata berusia 57 tahun. Siska Suridanda Danny MD selaku koordinator ilmiah pertemuan tahunan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (ASMIHA) ke-31 mengatakan, umumnya penyakit jantung koroner dikarenakan faktor bertambahnya usia, tetapi juga bisa akibat gaya hidup, termasuk merokok.

"Di Indonesia, proporsi serangan jantung pada usia kurang dari 40 tahun relatif tinggi," jelas dr Siska dalam acara "Peran Penting Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia dalam Transformasi Kesehatan di Bidang Kardiovaskular", dikutip Rabu (28/9/2022).

Baca Juga

Dr Siska mencontohkan salah satu pasiennya ada yang berusia 25 tahun. Ia mengungkap bahwa 90 persen faktor risiko serangan jantung adalah merokok.

"Nggak main-main, makanya yang merokok cobalah kurangi sampai setop. Kalau diamati, yang terdiagnosis penyakit jantung di usia kurang dari 40 tahun itu adalah perokok," kata dr Siska.

 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa penyakit jantung koroner dan strok masih menduduki peringkat pertama dan kedua penyebab kematian utama di dunia. Jumlah kematian global mencapai 18,6 juta orang setiap tahunnya, diperparah dengan munculnya emerging disease.

Pencegahan

Di samping faktor merokok, Siska mengatakan bahwa serangan jantung pada usia lebih muda dapat berkaitan metabolisme kolesterol dan peningkatan risiko di keluarga. Akan tetapi, penyakit jantung sebetulnya bisa dicegah meskipun ada riwayat di keluarga.

Jika menjalani pola hidup sehat sejak awal, maka lebih besar kemungkinannya bahwa penyakit jantung tidak bermanifestasi. Pencegahannya adalah melalui gaya hidup sehat.

Dr Siska menjelaskan pola hidup sehat untuk penyakit jantung sama halnya dengan Penyakit Tidak Menular (PTM) lainnya. Tetapi, olahraga juga memainkan peran penting.

"Obat dewanya adalah olahraga secara konsisten," kata dr Siska.

Dalam beberapa penelitian, menurut dr Siska, terbukti olahraga memangkas risiko serangan jantung. Ia menyebut, olahraga teratur tidak mesti berdurasi lama.

"Tidak mesti lama sampai sakit-sakit, disarankan 120-150 menit per pekan dengan intesitas ringan-sedang," kata dia.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement