Senin 11 Apr 2022 17:10 WIB

Konsumsi Pemanis Tambahan Bisa Ganggu Kinerja Hati

Pemanis tambahan bisa mengganggu peran penting hati dalam detoksifikasi.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Nora Azizah
Pemanis tambahan bisa mengganggu peran penting hati dalam detoksifikasi.
Foto: Wikimedia
Pemanis tambahan bisa mengganggu peran penting hati dalam detoksifikasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemanis tambahan atau pemanis non nutrisi yang dikonsumsi sekitar 40 persen warga Amerika Serikat disebut dapat mengganggu fungsi protein yang memainkan peran penting dalam detoksifikasi di hati dan metabolisme. Pemanis ini biasa digunakan dalam makanan dan bahkan dalam beberapa obat untuk memberikan rasa manis. Pemanis itu bisa juga termasuk alternatif gula dengan sedikit atau tanpa kalori. 

“Penting untuk memahami bagaimana pemanis ini mempengaruhi tubuh,” kata seorang mahasiswa doktoral di Medical College of Wisconsin, Laura Danner.

Baca Juga

Danner yang mempresentasikan penelitian baru pada pertemuan tahunan American Society for Biochemistry and Molecular Biology pekan ini di Philadelphia, juga mengatakan sebuah fakta bahwa banyak orang tidak menyadari pemanis ini ditemukan dalam makanan ringan atau makanan tanpa gula.

“Ada juga dalam yogurt dan makanan ringan, bahkan dalam produk non makanan seperti obat-obatan cair dan kosmetik tertentu,” papar Danner lebih lanjut dilansir dari Foxnews, Senin (11/4/2022).

 

Kandungan pemanis non-nutrisi seperti acesulfame potassium dan sucralose, dianalisis dengan menggunakan sel hati dan tes bebas sel. Para peneliti menemukan bahwa acesulfame potassium dan sucralose menghambat aktivitas protein dalam tubuh yang disebut P-glikoprotein (PGP).

Menurut para ahli kesehatan, PGP memompa banyak zat asing keluar dari sel, dan merupakan bagian dari kelompok pengangkut yang membantu membersihkan tubuh dari obat-obatan, racun, dan metabolit obat.

“Kami mengamati bahwa pemanis memengaruhi aktivitas PGP dalam sel hati pada konsentrasi yang diharapkan, melalui konsumsi makanan dan minuman umum jauh di bawah batas maksimum yang direkomendasikan FDA,” ungkap peneliti utama yang meneliti tentang pemanis non-nutrisi tersebut, Stephanie Olivier Van Stichelen. 

“Jika penelitian di masa depan mengkonfirmasi bahwa pemanis non-nutrisi merusak proses detoksifikasi tubuh, penting untuk mempelajari interaksi potensialnya dan menentukan tingkat konsumsi yang aman untuk kelompok berisiko,” kata Danner lagi.

Ia menyarankan juga untuk mencantumkan jumlah kandungan pemanis non-nutrisi pada label makanan, sehingga orang dapat melacak asupannya dengan lebih baik. Para peneliti juga masih berencana untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement