Rabu 23 Nov 2022 14:39 WIB

Risiko Demensia Warga AS Meningkat 58 Persen karena Konsumsi Gula Tambahan

Risiko terkena demensia dipengaruhi faktor gaya hidup, salah satunya konsumsi gula.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah
Risiko terkena demensia dipengaruhi faktor gaya hidup, salah satunya konsumsi gula.
Foto: Piqsels
Risiko terkena demensia dipengaruhi faktor gaya hidup, salah satunya konsumsi gula.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekitar 55 juta orang di seluruh dunia hidup dengan demensia, berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Para ahli memperkirakan jumlah kasus demensia global akan meningkat menjadi 78 juta pada 2030, dan 139 juta pada 2050.

Peningkatan risiko demensia dipengaruhi oleh gaya hidup sehari-hari, termasuk soal konsumsi gula tambahan. Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), banyak warga AS belum mengikuti rekomendasi pedoman diet DGA, yakni konsumsi gula tambahan kurang dari 10 persen total kalori harian.  

Baca Juga

USDA menyebutkan, 58 persen warga AS meningkatkan peluang terkena demensia karena konsumsi gula tambahan yang berlebihan. Rata-rata warga AS mengonsumsi lebih dari 25 sendok teh gula per hari, atau sekitar 20 persen dari jumlah kalori harian.

Ahli diet terdaftar Erin Palinski-Wade menjelaskan, makanan yang sehari-hari diasup tubuh dapat memengaruhi kesehatan otak dan fungsi kognitif. Mengonsumsi makanan utuh yang tinggi vitamin, mineral, serat, dan antioksidan dapat menyehatkan dan melindungi otak dari stres oksidatif. Stres oksidatif merupakan pendorong utama peradangan kronis, yang dapat merusak sel dan memicu dua jenis utama demensia, yakni penyakit alzheimer dan demensia vaskular. Tak hanya itu, mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang yang kaya serat, lemak nabati, dan antioksidan dapat membantu meningkatkan kesehatan otak. 

 

Bicara soal gula tambahan, jumlahnya yang berlebihan dalam makanan dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Palinski-Wade menjelaskan, gula tambahan dalam jumlah besar dalam makanan dapat menyebabkan lonjakan kadar insulin, lantas meningkatkan resistensi insulin dari waktu ke waktu. 

Resistensi insulin dalam tubuh dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif dan peningkatan risiko demensia. Penulis buku 2-Day Diabetes Diet itu mengutip studi pada 2021 yang diterbitkan dalam The Journal of Prevention of Alzheimer's Disease. Riset menemukan, konsumsi minuman manis dalam jumlah besar dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia, penyakit alzheimer, dan stroke.  

Para peneliti merekrut lebih dari 1.800 peserta. Hasilnya, peserta yang minum satu hingga tujuh porsi minuman dengan tambahan gula tiap pekan memiliki risiko demensia yang jauh lebih tinggi daripada peserta yang minum minuman bebas gula. Risikonya lebih tinggi bagi peserta yang minum lebih dari tujuh porsi minuman manis per pekan.

"Kelebihan kalori dari gula tambahan dalam minuman dapat meningkatkan massa lemak, khususnya lemak visceral (lemak perut). Saat lemak ini terakumulasi, tubuh menjadi lebih kebal terhadap insulin," ungkap Palinski-Wade, dikutip dari laman BestLife Online, Rabu (23/11/2022).

Dia menyoroti pula bahwa konsumsi gula tambahan dalam jumlah besar sekaligus pada satu waktu dapat menyebabkan lonjakan kadar glukosa darah serta insulin. Gula tambahan tak cuma termuat dalam makanan olahan seperti permen, soda, kue kering, dan makanan penutup, tetapi juga bersembunyi di bumbu, saus salad, sereal, sup, dan daging.

Cara terbaik untuk melindungi kesehatan otak dan menurunkan risiko demensia adalah dengan menghilangkan makanan dan minuman itu dari menh harian. Sebaliknya, makanlah banyak makanan nabati utuh, termasuk buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

"Dengan menyantap lebih banyak makanan utuh dan lebih sedikit makanan olahan, Anda bisa mulai mengurangi gula tambahan. Baca label makanan dan cari sumber gula tambahan," kata Palinski-Wade.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement