Sabtu 12 Mar 2022 08:09 WIB

Studi: Sembelit Bisa Jadi Tanda Awal Demensia

Sembelit mempengaruhi setengah dari individu berusia 65 tahun.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Sembelit mempengaruhi setengah dari individu berusia 65 tahun.
Foto: Piqsels
Sembelit mempengaruhi setengah dari individu berusia 65 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Demensia merupakan penyakit yang mengakibatkan penurunan daya ingat dan cara berpikir. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, mencatat sekitar 5 lima juta lansia berusia 65 dan lebih tua hidup dengan penyakit ini, dan diperkirakan akan melonjak menjadi 14 juta pada tahun 2060. 

Bagi banyak orang, penurunan kognitif biasanya diawali dengan melihat perubahan pada kinerja memori atau kebiasaan komunikasi. Tetapi menurut sebuah penelitian baru, kebiasaan di toilet mungkin mengingatkan tanda awal demensia. 

Baca Juga

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal medis The Lancet ditemukan bahwa sembelit bisa menjadi tanda awal demensia. Penelitian yang bertujuan untuk lebih memahami tanda-tanda peringatan dini penyakit Alzheimer, menganalisis data medis dari 39.672 orang di Inggris dan Prancis yang telah didiagnosis menderita Alzheimer, kemudian membandingkannya dengan individu yang tidak mengembangkan kondisi tersebut.

Secara total, 123 kondisi kesehatan dilaporkan di antara peserta dalam penelitian ini. Hasil akhir dari analisis tersebut mampu membangun hubungan antara gejala potensial dan penyakit Alzheimer, termasuk sembelit.

 

Sembelit mempengaruhi setengah dari individu yang berusia 65 tahun atau lebih. Meski kondisi lain yang dicatat dalam penelitian memiliki hubungan yang relatif mapan dengan timbulnya penurunan kognitif, penelitian ini merupakan hubungan pertama yang dibuat antara penyakit Alzheimer dan sembelit pada tahap awal. 

Data menunjukkan bahwa hubungan antara keduanya semakin jelas, rata-rata tujuh tahun setelah seseorang didiagnosis dengan kondisi tersebut. Namun peneliti menekankan bahwa kondisi sembelit tidak menjadi tanda pasti akan mengembangkan Alzheimer di kemudian hari. Peneliti merekomendasikan Anda untuk berkonsultasi dengan dokter jika mengalami sembelit, terutama jika Anda buang air besar kurang dari tiga kali seminggu atau harus berjuang untuk BAB, untuk deteksi lebih lanjut. 

Selain sembelit, penelitian ini juga mengungkap gejala lain yang terkait dengan penyakit Alzheimer. Depresi berat, kecemasan, penurunan berat badan yang tidak normal, reaksi terhadap stres berat, gangguan tidur, gangguan pendengaran, radang sendi yang disebut spondylosis serviks, dan kelelahan, disebutkan sebagai peringatan dini untuk kondisi demensia.

Para peneliti menjelaskan bahwa temuan dapat sangat mempengaruhi bagaimana Alzheimer dideteksi, didiagnosis, dan diobati pada tahap awal.

"Hubungan yang dibuat memungkinkan kami untuk mengonfirmasi keterkaitan yang diketahui, seperti masalah pendengaran atau depresi, dan faktor lain yang kurang diketahui atau gejala awal, seperti spondylosis serviks atau sembelit. Namun, kami hanya melaporkan asosiasi statistik," kata penulis utama studi Thomas Nedelec seperti dilansir dari BestLife, Sabtu (12/3/2022).

Para ilmuwan masih mempelajari lebih lanjut tentang demensia dan apa yang meningkatkan risiko seseorang untuk mengembangkannya di kemudian hari. Menurut CDC, bertambahnya usia adalah faktor risiko yang paling signifikan. Namun, riwayat keluarga, kesehatan jantung yang buruk seperti hipertensi dan kolesterol tinggi, merokok, dan riwayat cedera otak traumatis juga dapat meningkatkan kemungkinan demensia.

Meskipun tidak ada obat untuk demensia neurodegeneratif seperti Alzheimer, beberapa obat dapat membantu mengobati penyakit dan mengelola gejalanya. Selain itu gaya hidup sehat, termasuk olahraga teratur, makan sehat, dan menjaga kontak sosial, mengurangi kemungkinan mengembangkan penyakit kronis dan dapat mengurangi jumlah penderita demensia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement