Rabu 10 Feb 2021 15:35 WIB

Pakar: Kanker Lambung Sulit Dideteksi

Kanker lambung sering disangka sakit maag sehingga sulit dideteksi.

Kanker lambung sering disangka sakit maag sehingga sulit dideteksi (Foto: ilustrasi)
Foto: Wikimedia
Kanker lambung sering disangka sakit maag sehingga sulit dideteksi (Foto: ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kanker lambung adalah penyakit kanker terbesar keempat di dunia. Di Indonesia, kasusnya terbilang jarang tetapi masyarakat tetap harus waspada.

Ketua Yayasan Kanker Indonesia Prof DR dr Aru Sudoyo, SpPD, KHOM, FINASIM, FACP mengatakan, kanker lambung disebabkan oleh adanya sel-sel kanker yang tumbuh di dalam lambung dan menjadi tumor. Sel ini kemudian tumbuh lagi secara perlahan selama bertahun-tahun. Penderita kanker lambung sendiri biasanya berusia 60-80 tahun.

Baca Juga

"Pada awalnya, kanker lambung sering disangka sebagai sakit maag biasa sehingga sebagian besar pasien datang terlambat dan sudah pada stadium lanjut," kata Prof. Aru dalam webinar "Gaya Hidup Masa Kini: Waspada Kanker Lambung Mengintai Anda!" pada Rabu (10/2).

Profesor yang berpraktik di RSCM ini mengatakan gejala dari kanker lambung memang sulit dideteksi, sebab rata-rata seperti sakit maag biasa. Namun jika terlambat ditangani dapat menyebabkan kematian. Beberapa gejala umum dari kanker lambung di antaranya nafsu makan menurun, sakit pada uluhati, nyeri perut, anemia, mual, berat badan turun drastis, serta muntah dengan atau tanpa darah.

"Gejalanya hampir sama semuanya cuma kalau kita ada gejala yang enggak hilang-hilang misalnya tiga bulan diobati sakit maag tidak hilang-hilang ya kita harus minta dokternya untuk menelusuri lebih lanjut," kata Prof. Aru.

Menurut data GLOBOCAN 2020, angka kejadian kanker lambung di dunia tahun 2020 mencapai lebih dari 1 juta kasus, yaitu sebanyak 369.580 kasus pada wanita dan 719.523 kasus pada laki-laki. Faktor pemicu kanker lambung 5-10 persen disebabkan oleh genetika 90-95 peesen lebih disebabkan oleh faktor lingkungan yang meliputi diet (30-35 persen), rokok (25-30 persen), infeksi (15-20 persen), obesitas (10-20 persen), alkohol (4-6 persen) dan lain-lain (10-15 persen).

Beberapa hal juga dapat meningkatkan risiko kanker lambung, diantaranya bakteri Helicobactor pylori, metaplasia usus, atrophic gastritis kronis, anemia pernisiosa, ataupun polip lambung dan makanan yang diproses atau diasinkan.

"Ini (kanker lambung) memang bukan 10 besar di Indonesia tapi sulit dideteksi, pengobatannya sulit dan mahal, hati-hati merokok dan garam berlebihan itu adalag faktor penting penyebab kanker lambung," ujar Aru.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement