Selasa 29 Oct 2019 15:31 WIB

Kenapa Cokelat Indonesia Enak? Ini Alasannya

Tanaman kakao yang tumbuh di Indonesia lebih unggul dibandingkan negara lain.

Rep: MGROL01/ Red: Nora Azizah
Cokelat batang (Ilustrasi)
Foto: Needpix
Cokelat batang (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selain menjadi 'surga' kopi, Indonesia juga memiliki hasil cokelat yang melimpah. Tak hanya tumbuh subur, tanaman kakao Indonesia juga diklaim lebih unggul dari negara lain.

Head of Cocoa Life South East Asia Andi Sitti Asmayanti mengatakan, tanaman kakao yang tumbuh di Indonesia disebut memiliki keunggulan dari segi titik didih. Cokelat Indonesia memiliki titik didih yang lebih tinggi dari negara lain.

Baca Juga

"Kakao Indonesia sendiri itu memiliki keunggulan titik didih yang tinggi. Pada saat dimakan, diproses, itu akan melting lebih cepat," ujar Yanti dalam acara peringatan 5 tahun Cocoa Life di Agro Plaza, Kuningan, Jakarta, Senin (28/10).

Yanti mengungkapkan, hanya saja pertumbuhan tanaman Kakao di Indonesia pada saat ini mengalami penurunan yang sangat besar. Ada beberapa faktor yang membuatnya demikian, di antaranya minimnya pengetahuan dan edukasi para petani kakao, pohon yang sudah mulai menua, dan adanya perubahan iklim yang menyebabkan hama dan penyakit dapat bermutasi lebih jauh.

Kemudian, lanjut Yanti, produksi panen yang seharusnya bisa mencapai 2,5 ton per hektare, beberapa tahun ini sampai saat ini belum bisa tercapai sepenuhnya. Saat ini, panen kakao hanya bisa mencapai 1,5 ton per hektare.

Menurut Yanti, edukasi kepada para petani kakao bisa menjadi langkah yang tepat untuk mempertahankan kualitas cokelat Indonesia. Pemahaman dan cara mengelola kebun kakao perlu dikembangkan sebagai investasi jangka panjang.

"Kemudian petaninya tahu cara budi daya kakao yang benar, peremajaan kakao yang benar seperti itu," lanjut Yanti.

Dengan memberikan edukasi kepada para petani maka potensi besar dari kakao terus berkembang di dalam negeri. Pengelolaan kebun kakao yang telah dikembangkan tentunya akan berdampak positif bagi para petani.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement