Senin 08 Jul 2019 13:25 WIB

Rumah Autis Berikan Pembinaan pada Anak Berkebutuhan Khusus

Rumah Autis telah aktif membina anak-anak berkebutuhan khusus sejak Desember 2004.

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Christiyaningsih
Autisme (ilustrasi).
Foto: Edwin Dwi Putranto/Republika
Autisme (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Anak-anak berkebutuhan khusus dapat dibina dan dibimbing sebagaimana anak-anak pada umumnya. Salah satu yang memberikan bimbingan kepada anak-anak berkebutuhan khusus adalah Rumah Autis yang berada di Gunung Putri, Bogor.

Rumah Autis telah aktif membina anak-anak berkebutuhan khusus sejak Desember 2004. Saat ini mereka memiliki 220 anak berkebutuhan khusus yang tersebar di tujuh cabang di Jabodetabek dan Karawang.

Baca Juga

Divisi Pengembangan Anak Spesial Rumah Autis cabang Gunung Putri Henny Ma’rifah mengungkapkan anak-anak berkebutuhan khusus yang ada di Rumah Autis paling banyak saat ini adalah penyandang autisme dan intellectual disability. Ada juga sebagian kecil anak penyandang Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Ada 16 sampai 20 anak dan lima guru yang berada di Rumah Autis cabang Gunung Putri. Henny mengatakan ada beberapa anak yang memang sudah observasi, tetapi belum dipanggil.

Ini karena Rumah Autis cabang Gunung Putri masih menunggu jadwal guru yang bisa membimbing anak-anak berkebutuhan khusus tersebut. Henny mengakui mereka kekurangan tenaga pengajar anak berkebutuhan khusus.

Menurut Henny, anak berkebutuhan khusus adalah manusia biasa yang butuh dibimbing. “Kalau di dunia kelihatannya kita yang bantu mereka, tapi kalau di akhirat mereka akan bantu kita. Mereka Insya Allah terbebas dari dosa dan Insya Allah bersaksi bahwa ‘itu guruku’,” ujar Henny.

Menjadi penyandang autisme, kata Henny, bukanlah kemauan anak-anak itu. Justru orang-orang di sekitarnya dituntut untuk sabar menghadapi mereka. “Kalau enggak sabar ya, enggak bisa paham sama mereka,” katanya.

Rumah Autis memiliki beberapa program untuk membina panyandang autisme. Kegiatan tersebut dilakukan pada Senin-Jumat mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

Program pertama yakni sekolah khusus. Gagasan program ini adalah untuk membantu anak-anak autisme yang tidak memiliki kesempatan untuk bersekolah. Anak-anak penyandang autisme tidak bisa mengenyam pendidikan di sekolah umum karena keterbatasan berkomunikasi, perilaku mandiri, dan kemampuan diri mereka.

Program kedua dinamakan program bimbingan latihan keterampilan (BLK). Program ini membantu anak-anak penyandang autis bisa berkarya dan memiliki bekal keterampilan. Contohnya adalah kegiatan membuat telur asin, membuat gelang, bahkan membuat bantal.

Terapi menjadi program ketiga yang dilakukan di Rumah Autis. Anak-anak berkebutuhan khusus, termasuk autisme, bisa saja memerlukan latihan lebih intensif.

Tidak semua anak membutuhkan terapi. Terapi akan diberikan jika anak tersebut memang memerlukannya. Terapi ini lebih baik dilakukan saat anak berkebutuhan khusus masih dalam usia masa emas (0-5 tahun).

“Mereka yang datang ke kami sudah berusia enam, delapan, terkadang 10 dan 12 tahun. Agak kecil kemungkinan (sembuh). Itu karena ketidaktahuan informasi, ketebatasan dana, ya sudah anaknya didiamkan (dengan harapan) nanti berkembang sendiri, ternyata enggak,” ujarnya.

Di sisi lain, anak-anak berkebutuhan khusus juga memiliki makanan khusus yang dianjurkan oleh tenaga medis, terutama penyandang autisme. Henny mewajibkan anak-anak penyandang autisme untuk diet gula, kasein, dan gluten.

“Buah-buahan mengandung fenol juga tidak kami anjurkan. Memang sebenarnya ada treatment khusus dari dokter biomedis. Cuma karena keterbatasan dana orang tua kami serahkan lagi ke mereka (orang tua). Suplemen pun kami serahkan ke orang tua,” katanya menjelaskan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement