Rabu 12 Jun 2019 21:00 WIB

Kebiasaan Begadang Bisa Diubah dalam Tiga Pekan

Peneliti telah menemukan cara untuk memperbaiki kebiasaan begadang dalam tiga pekan

Rep: Santi Sopia/ Red: Christiyaningsih
Susah tidur (ilustrasi)
Susah tidur (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebiasaan begadang berdampak buruk bagi tubuh maupun kesehatan mental. Orang yang terbiasa begadang sering kali disebut sebagai night owl alias burung hantu malam.

Selain menghadapi masalah kesehatan mental, night owl juga cenderung terganggu dalam proses akademik. Gangguan terjadi mengingat mereka sulit menyesuaikan jadwal.

Baca Juga

Untungnya, menurut temuan studi baru-baru ini, kebiasaan begadang sebenarnya bisa diubah dalam waktu beberapa pekan. Dengan penyesuaian sederhana, perubahan kebiasaan begadang rupanya dapat membantu mengurangi stres, tekanan, dan kantuk di siang hari.

Peneliti telah menemukan cara untuk memperbaiki kebiasaan buruk begadang hanya dalam waktu tiga pekan. Studi melibatkan 22 orang night owl yang memiliki waktu tidur rata-rata pukul 02.30 dengan waktu bangun pukul 10.15 pagi. Hasilnya, peserta menemukan manfaat secara konsisten setelah mengubah kebiasaan.

Dalam jangka waktu tiga pekan, peserta diminta mengubah waktu tidur dan bangun mereka lebih maju dua atau tiga jam. Mereka perlu konsisten baik pada hari kerja dan hari libur.

Mereka juga diberitahu untuk mendapatkan banyak sinar matahari di pagi hari dan makan sarapan segera setelah bangun tidur. Para night owl juga diminta makan siang pada waktu yang sama setiap hari dan makan malam tidak lebih dari pukul 19.00.

Temuan oleh Universitas Birmingham dan Surrey, serta Monash University di Australia itu menunjukkan peningkatan kinerja kognitif (waktu reaksi) dan fisik (kekuatan genggaman) selama pagi hari. Hasil studi juga sudah diterbitkan yang diterbitkan dalam jurnal Sleep Medicine.

Co-author, Andrew Bagshaw, dari Pusat Kesehatan Otak Manusia Universitas Birmingham mengatakan memiliki pola tidur yang terlambat membuat orang bertentangan dengan hari-hari masyarakat standar. Hal itu dapat menyebabkan berbagai hasil yang merugikan, seperti kantuk di siang hari hingga mental yang lebih buruk.

“Kami ingin melihat apakah ada hal-hal sederhana yang dapat dilakukan orang di rumah untuk menyelesaikan masalah ini. Dan akhirnya berhasil dengan memungkinkan orang untuk tidur dan bangun sekitar dua jam lebih awal dari sebelumnya," ujarnya dikutip dari Independent, Selasa (11/6).

Hal paling menarik yaitu temuan yang dikaitkan dengan peningkatan kesejahteraan mental. Itu berarti adalah hasil yang sangat positif bagi para peserta. Peneliti disebut memahami bagaimana pola kebiasaan tidur berhubungan dengan otak, bagaimana hubungannya dengan kesejahteraan mental, dan apakah intervensi mengarah pada perubahan jangka panjang.

Peneliti utama, Elise Facer-Childs, dari Turner Institute di Bagian Otak dan Kesehatan Mental Monash University menambahkan penjelasan. Menurutnya untuk meningkatkan hasil, peneliti dapat melangkah jauh dalam masyarakat yang berada di bawah tekanan konstan untuk mencapai produktivitas optimal dan kinerja.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement