Jumat 28 Sep 2018 19:18 WIB

Studi: Ada Kaitan Kecanduan Gim dengan ADHD

Anak dan remaja yang menggunakan teknologi berlebihan dua kali berisiko kena ADHD

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Anak bermain dengan gawai.
Foto: Flickr
Anak bermain dengan gawai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gim video yang digemari anak dan remaja membuat orang tua perlu lebih waspada. Sebab, sains menyebut adanya kaitan antara kecanduan gim dengan gangguan perilaku ADHD atau attention deficit hyperactivity disorder.

Gejala anak yang mengidap ADHD adalah perilaku impulsif dan hiperaktivitas. Tidak ada bukti menyeluruh bahwa gim video menyebabkan ADHD secara langsung, tetapi anak yang terlalu sering bermain gim video cenderung menunjukkan gejala tersebut.

Hal itu cukup meresahkan jika dibiarkan. Terlebih, penelitian yang dilakukan Akademi Pediatri Amerika mengungkap bahwa 8,5 persen anak di AS yang berusia antara delapan sampai 18 tahun telah kecanduan gim internet.

Seorang psikiater dari Universitas Utah, Dr Perry Renshaw, telah meneliti kecanduan gim selama 15 tahun. Dia mengatakan, pecandu gim lebih mungkin mengidap ADHD atau depresi. Meredakan kecanduan gim pun terbukti menghilangkan kondisi mental tersebut.

Studi yang terbit di Journal of the American Medical Association (JAMA) Juli silam juga menyebutkan hal serupa. Remaja yang berlebihan menggunakan teknologi disebut dua kali lebih berisiko menunjukkan gejala ADHD.

Tim asal Kalifornia itu meneliti 2.600 remaja di sekolah Los Angeles selama dua tahun. Peneliti mendata seberapa sering ribuan partisipan itu mengakses 14 media sosial berbeda, termasuk bermain gim internet lewat gawai.

"Studi ini memicu kekhawatiran mengenai proliferasi teknologi media digital yang berpotensi menempatkan generasi baru atas risiko ADHD," kata salah satu penulis studi, Profesor Adam Leventhal dari University of Southern California.

Bukan berarti orang tua harus sepenuhnya melarang anak bermain gim video. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa permainan virtual itu dapat meningkatkan keterampilan spasial, kemampuan analisis, dan kemampuan bekerja sama atau teamwork.

Orang tua sebaiknya membuat aturan jam bermain untuk pembatasan. Jika anak mulai tak bisa terlepas dari gim, orang tua disarankan mengajukan pertanyaan diagnostik untuk mengecek kondisi kecanduan teknologi dengan pendekatan yang hangat.

Psikolog klinis Lisa Strohman menekankan pentingnya memprogram penggunaan teknologi anak di rumah maupun ruang kelas. Guru perlu bekerja sama dengan orang tua untuk menetapkan tujuan realistis dan memberikan pemahaman kepada anak-anak.

"Ini tidak berbeda dengan mengajari anak-anak tentang nutrisi," kata perempuan asal Scottsdale, Arizona, yang mendirikan Akademi Warga Digital itu, dikutip dari laman Healthline.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement