Senin 22 Apr 2024 15:59 WIB

Kebiasaan 'Menumpuk' Baju Kotor Dikaitkan dengan Pengidap ADHD

Kebiasaan menumpuk baju atau floordrobe umum dijumpai pada pengidap ADHD.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Qommarria Rostanti
Mencuci baju (ilustrasi). Mencuci baju melibatkan memori jangka pendek, yang dapat menjadi tantangan lain bagi pengidap ADHD.
Foto: Mgrol101
Mencuci baju (ilustrasi). Mencuci baju melibatkan memori jangka pendek, yang dapat menjadi tantangan lain bagi pengidap ADHD.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagian orang punya kebiasaan menunda membereskan cucian bersih atau pakaian kotor bekas dari liburan. Bukannya disusun di lemari atau segera dicuci, deretan pakaian itu malah ditumpuk begitu saja di lantai atau disampirkan di kursi selama berhari-hari.

Terdapat istilah untuk hal itu, yaitu floordrobe. Dalam sebuah unggahan TikTok yang viral, kreator konten Jeff Rice dari YourADHDBrain.com menyebut floordrobe umum dijumpai pada pengidap gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD).

Baca Juga

"Floordrobe bisa berupa keranjang cucian yang dibiarkan berhari-hari atau berpekan-pekan, atau bisa juga di tumpukan pakaian yang sudah lama dipakai, tapi tidak terlalu kotor. Jadi, seseorang berpikir akan memakainya lagi, lalu membiarkannya tergeletak di lantai atau digantung di kursi," kata Rice dalam videonya.

Mengapa kebiasaan menyimpan pakaian awam dijumpai pada pengidap ADHD? Terapis Billy Roberts dari Focused Mind ADHD Counseling di Columbus, Ohio, Amerika Serikat, menjelaskan bahwa kondisi ADHD berdampak pada fungsi eksekutif otak, yang mengontrol motivasi, perencanaan, memori kerja, pengorganisasian, dan pengendalian diri. 

"Saat dihadapkan pada tugas yang membosankan, otak ADHD kewalahan dan mulai menginginkan tugas yang lebih menarik. Pekerjaan yang membosankan seperti mencuci pakaian cenderung membuat frustrasi karena dapat menumpuk, menyebabkan banyak penderita ADHD merasa sangat kewalahan dan semakin menghindari tugas tersebut," ucap Roberts.

Selain tidak menarik, mencuci pakaian dianggap bukan merupakan hal yang mendesak (setidaknya sampai seseorang kehabisan pakaian dalam yang bersih). Terapis Rachael Bloom dari Los Angeles, AS, otak pengidap ADHD mudah teralihkan oleh input-input yang saling bersaing.

"Tugas yang membosankan dan sering kali tidak mendesak akan sulit untuk diprioritaskan, sedangkan tugas-tugas yang mendesak mempunyai cara untuk menerobos gangguan-gangguan lain, pada dasarnya 'memaksa' bahwa mereka harus diprioritaskan dan diselesaikan," ujar Bloom. 

Dia mengutip sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa individu dengan ADHD memiliki gelombang otak beta yang lebih sedikit. Beta adalah jenis gelombang otak yang membuat seseorang tetap waspada dan fokus secara mental. Stres, krisis, atau tenggat waktu dapat menghasilkan gelombang beta tambahan, yang sebenarnya dapat membantu 'menghidupkan' fokus pada individu dengan ADHD. 

Selain aspek fungsi eksekutif, mencuci juga melibatkan memori jangka pendek, yang dapat menjadi tantangan lain bagi pengidap ADHD. Psikoterapis dan terapis pasien ADHD yang berbasis di Michigan, AS, Terry Matlen, menjabarkan bahwa itulah sebabnya banyak pengidap ADHD kesulitan mengingat untuk memindahkan pakaian dari mesin cuci ke pengering.

Matlen menekankan bahwa cucian yang seolah tak ada habisnya menambah tantangan. "Meskipun sulit untuk dilakukan, kami tahu bahwa hal ini akan dimulai lagi keesokan harinya. Gundukan cucian bersih dan kotor muncul setiap beberapa hari sekali," ujarnya.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement