Rabu 03 Jan 2018 07:49 WIB

Cokelat akan Punah Tahun 2050

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani
Cokelat
Foto: Independent
Cokelat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi pencinta cokelat, sudah siapkah jika tiba-tiba camilan favorit ini hilang di masa depan? Ilmuwan di National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) telah memperkirakan tanaman kakao sebagai bahan utama cokelat kemungkinan akan punah pada awal 2050. Alasan punahnya tanaman kakao karena terjadinya perubahan iklim.

Sebagian besar cokelat di dunia berasal dari Afrika Barat, sebab tanaman tumbuh subur di hutan hujan di kawasan ini. Namun, selama 40 tahun ke depan, suhu Bumi yang meningkat akan mendorong perkebunan kakao ke pegunungan, ke daerah-daerah yang tidak sesuai untuk budi daya atau sudah dilindungi oleh satwa liar.

Untuk menanggapi permasalah kepunahan tersebut, perusahaan makanan olahan cokelat seperti Snickers dan the Twix bar-telah bekerja sama dengan University of California. Mereka mengembangkan metode baru yang dapat membantu menyelamatkan tanaman kakao di masa depan.

Laporan Independent upaya baru University of California Berkeley menggunakan teknologi CRISPR untuk memodifikasi DNA tanaman kakao. Tanaman hasil rekayasa genetika akan dapat bertahan dalam kenaikan suhu dan perkebunan tidak perlu dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi.

NOAA menyatakan, perubahan iklim tidak akan memengaruhi generasi tanaman kakao sekarang, hanya saja generasi berikutnya dapat terpengaruh. Dengan begitu, masih ada waktu untuk melakukan adaptasi bagi tumbuhan tersebut.

Tapi, NOAA memperingatkan, 89,5 persen lahan yang saat ini digunakan untuk mengolah kakao tidak akan lagi cocok pada tahun 2050. Badan ini merekomendasikan untuk memusatkan pada bibit bibit kakao yang spesifik yang tahan terhadap kekeringan dan mendukung lebih banyak usaha untuk menanam biji kakao menggunakan metode tradisional Brasil yang disebut cabruca, di mana pohon tambahan ditanam di hutan hujan untuk menyediakan pohon kakao dengan naungan, elemen penting yang dibutuhkan benih untuk bertahan hidup.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement