Ahad 15 Oct 2017 14:47 WIB

Pasar Malam, Saat Taman Hiburan Pindah ke Perkampungan

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Indira Rezkisari
Pasar Malam Wonolelo di Sleman, Yogyakarta,
Foto: Republika/Wahyu Suryana
Pasar Malam Wonolelo di Sleman, Yogyakarta,

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Pasar Malam masih menjadi primadona di perkampungan-perkampungan, termasuk di Kabupaten Sleman. Taman hiburan yang biasanya didatangkan dalam peringatan-peringatan tersebut ternyata masih memiliki daya tarik yang mampu menyatukan masyarakat untuk sejenak menenangkan pikiran.

Salah satu Pasar Malam baru-baru ini diselenggarakan di Lapangan Pondok Wonolelo, Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Pasar Malam diadakan sebagai rangkaian kegiatan Saparan Ki Ageng Wonolelo ke-50, yang berlangsung 13-28 Oktober 2017.

Biasanya, Pasar Malam dalam perhelatan tahunan ini memang digelar selama satu atau dua pekan, yang bertujuan memberikan kesempatan lebih banyak masyarakat untuk menikmatinya. Sebab, tidak cuma masyarakat sekitar, Pasar Malam memang biasanya didatangi masyarakat dari desa-desa tetangga.

Begitu terdengar kabar akan diadakan Pasar Malam, masyarakat memang terbiasa meluangkan waktu untuk datang, baik untuk sekadar mencari hiburan maupun berbelanja. Karenanya, kehadiran Pasar Malam tidak hanya mendatangkan banyak pengunjung, tapi membuka peluang ekonomi masyarakat.

Untuk perhelatannya, biasanya Pasar Malam mampu memberdayakan satu kampung. Mulai dari kalangan remaja sebagai panitia, bapak-bapak yang menjaga keamanan sampai ibu-ibu yang bisa berjualan. Tidak ketinggalan, anak-anak sebagai aspek utama agar dapat mendapatkan hiburan.

Selepas maghrib, masyarakat bersama sanak keluarga biasanya sudah berbondong-bondong mendatangi lokasi Pasar Malam. Walau santai, masyarakat yang datang terbiasa memakai pakaian yang rapi dan berdandan, seperti hendak mendatangi suatu perhelatan yang besar.

Cukup membayar Rp 3.000 untuk tiket masuk atau biaya parkir, masyarakat dapat menikmati beragam hiburan yang dihadirkan. Gemerlap lampu pun sudah dapat terlihat dari jalan-jalan utama Desa Widodomartani, ditemani menjanya kesejukan udara malam khas perkampungan.

Setelah memarkirkan kendaraan, hingar bingar musik biasanya sudah menyambut pengunjung yang menapaki jalan setapak menuju lokasi utama Pasar Malam. Sepanjang mata memandang, jalan-jalan utama sudah berubah menjadi semacam bazaar besar yang memenuhi sisi kiri dan kanan.

Berbeda dengan pasar-pasar malam di perkotaan, deretan pedagang yang ada di Pasar Malam perkampungan memang biasanya jauh lebih panjang. Mulai dari makanan dan minuman, pakaian, peralatan dapur sampai elektronik, semuanya tersedia bagi pengunjung.

Barang yang diperdagangkan pun beragam. Untuk makanan dan minuman ada yang tradisional seperti apem, martabak dan goreng-gorengan, dan ada yang modern seperti takoyaki, sosis bakar, sampai burger. Pun untuk pakaian, mulai dari baju olahraga, kaos-kaos sampai jilbab.

Ada dua panggung yang dapat dipilih pengunjung untuk mendapatkan hiburan. Satu panggung hiburan di sisi jalan kiri berisikan pentas musik dan biasanya diisi band-band dan dangdut, satu lagi di sisi kanan diisi panggung hiburan anak-anak yang berisi banyak permainan edukasi.

Setelah melewati jalan utama yang cukup panjang, pengunjung akan tiba di lapangan utama yang masih pula menghadirkan dagangan-dagangan. Tak tanggung-tanggung, terdapat tiga ruas jalan yang dibuat untuk bisa menampung banyaknya pedagang-pedagang yang berjualan.

Dari situ, wahana-wahana bermain sudah dapat terlihat. Pengunjung sudah dekat dengan taman bermain jika sudah melewati deretan pedagang-pedagang mainan atau permainan. Ada pancingan dan eskavator mini untuk anak-anak, serta permainan-permainan seperti lempar paser untuk dewasa.

Masuk ke taman bermain, biasanya pengunjung dibuat takjub dengan permainan-permainan yang ada. Seperti berada di taman hiburan yang ada di kota-kota besar, berbagai permainan khas seperti kincir-kincir atau bianglala yang menjulang ke atas ada di depan mata mereka.

Ada pula komidi putar dengan kuda-kudanya yang khas, bom bom car, sampai wahana seperti ontang anting dan kora-kora pun ada. Teriakan mereka yang tengah mencoba permainan-permainan itu kerap mengundang senyum, sekaligus membuat pengunjung lain tak sabar untuk ikut mencobanya.

Salah satu pengunjung, Indah, tampak begitu takjub melihat wahana-wahana bermain yang ada. Dara jelita berusia delapan tahun yang datang bersama kedua orang tuanya ini, mengaku sangat ingin mencoba semua wahana bermaian yang ada, terutama rumah balon dan kolam bola.

"Mau coba semuanya, mau main rumah balon sama kolam bola," kata Indah yang digendong sang ayah, sambil melahap sosis yang ada di tangan kanannya.

Tong Stand, salah satu ciri khas Pasar Malam pun ada. Pertunjukkan yang sering dipelesetkan sebagai Tong Setan itu memang mengundang daya tarik pengunjung. Pasalnya, jika tidak menonton dari atas, pengunjung hanya bisa mendengar deru kendaraan yang mengitari penggung berbentuk tong tersebut.

Kemampuan penampil memacu kendaraannya menaiki dinding-dinding panggung, begitu menyihir mata anak-anak yang melihatnya dengan penuh kagum. Walau mulai berkurang, Tong Stand bisa dibilang jadi salah satu pertunjukkan yang paling banyak dibicarakan masyarakat.

Ketua Karang Taruna Desa Widodomartini, Taufiq mengatakan, Pasar Malam memang merupakan kegiatan tahunan yang digelar untuk memperingati Saparan Ki Ageng Wonolelo. Bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Pasar Malam akan berlangsung selama dua pekan.

"Targetnya, biasanya sampai sekitar 50 ribu pengunjung," ujar Taufiq.

Untuk mencoba masing-masing wahana, pengunjung cukup membayar tiket sekitar Rp 2.000 hingga Rp 3.000, kecuali Tong Stand yang tiketnya seharga Rp 8.000. Sedangkan, Pasar Malam sendiri setiap harinya mulai dibuka sekitar pukul 17.00, dan akan berlangsung sampai pukul 24.00.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement