Rabu 30 Aug 2017 10:59 WIB

Jangan Bangga Berikan Gagdet Canggih ke Anak

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Winda Destiana Putri
Anak main gadget. Ilustrasi
Foto: Malaytimes
Anak main gadget. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di balik berbagai kemudahan dan dampak positif dari kemajuan teknologi informasi, terselip pula dampak negatif yang muncul. Salah satunya adalah kemunculan akun-akun terkait dengan kelainan seksual, termasuk pedofil.

Bahkan, saat ini, akun-akun tersebut diketahui bertebaran di berbagai media sosial, seperti Facebook. Fenomena ini pun memunculkan kekhawatiran terkait anak-anak yang menjadi incaran para kaum pedofil tersebut, terutama lewat dunia maya.

Menurut aktivis Indonesia Child Online Protection (ID-COP), Donny BU, tanggung jawab untuk melindungi anak-anak dari pengaruh buruk internet tidak hanya terdapat di orang tua dan keluarga, tapi juga institusi sekolah, dan negara. Namun, salah satu cara yang cukup tepat untuk melindungi anak-anak dari para predator seks ini lewat pendampingan dari orang tua.

''Orang tua harus senantiasa memberikan waktu untuk mendampingi anak saat menggunakan internet di rumah. Kemudian, orang tua juga senantiasa menjadi idola anak-anak di tengah keluarga saat anak bereksplorasi dengan internet,'' ujar Donny kepada Republika.

Tidak hanya itu, aktivis dari Internet Sehat ini menambahkan, keluarga juga harus bisa menjadi tempat ''curhat'' untuk anak-anak. Orang tua diharapkan bisa mengerti atau setidak-tidaknya memahami tentang perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tersebut, termasuk perkembangan media sosial saat ini.

Donny pun menyoroti soal perilaku orang tua yang terkadang merasa bangga karena telah memberikan anaknya gagdet atau perangkat yang canggih. ''Janganlah menjadi kebanggaan bagi orang tua, jika memberikan atau membekali anak, khususnya remaja, dengan gadget atau teknologi canggih, karena alih-alih gadget itu malah bisa membahayakan anak itu sendiri,'' tutur Donny, yang juga salah satu pendiri organisasi nirlaba Information Communication Technology (ICT) Watch tersebut.

Selain itu, untuk meminimalisir kemungkinan adanya tindak kejahatan pedofilia, maka anak-anak terus didampingi, terutama saat membuat sebuah akun media sosial. Pun saat mengunggah atau memposting foto anak-anak di media sosial. ''Kemudian, juga jangan memberikan data diri yang lengkap ketika menggunakan medoa sosial, yang dapat mengundang pikiran atau niat buruk ke dalam situs jejaring sosial,'' kata Donny.

Lebih lanjut, Donny menuturkan, sebenarnya berjejaring lewat medsos memiliki sejumlah efek positif untuk anak-anak dan remaja. Selain berfungsi untuk memperluas jaringan pertamanan dan mengembangkan ketrampilan teknis dan sosial, anak-anak dapat menjadi lebih bersahabat dan memiliki empati lewat pertemanan di media sosial. Kendati begitu, media sosial juga menyimpan efek negatif.

Salah satu efek negatif yang muncul, anak menjadi malas berkomunikasi di dunia nyata. Selain itu, media sosial membuat anak-anak cenderung menjadi egois. ''Kemudian, situs jejaring sosial menjadi lahan subur bagi predator untuk melakukan kejahatan, termasuk kejahatan seksual. Kita tidak pernah tahu, apakah seseorang yang baru dikenal anak kita di internet, menggunakan jati diri yang sesungguhnya,'' ujar Donny.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement