Selasa 22 Aug 2017 11:35 WIB

Psikolog Paparkan Tantangan Membesarkan Remaja

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari
Remaja putri
Foto: Antara
Remaja putri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memiliki anak usia remaja tidaklah mudah. Mereka sedang mencari jati diri, mereka labil dan menganggap teman adalah segalanya.

Selain itu, menurut psikolog anak dan remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi, masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak persiapan menuju dewasa. Di mana pada saat dewasa harus lepas dari orang tua. Mereka harus mandiri dan harus memiliki posisi diri yang mantab. Baik itu pekerjaan, pendidikan maupun pasangan hidup. Karena itu mereka harus persiapkan segalanya di masa remaja.

“Yang tidak bisa dielakkan adalah pubertas. Remaja tidak ada yang melompati pubertas. Setiap remaja alami perubahan fisik, emosional dan hormonal. Kemudian muncul isu penampilan, mereka tidak percaya diri dengan penampilan,” jelasnya dalam konferensi pers di Jakarta belum lama ini.

Saat remaja, tidak hanya perempuan saja, ketika memasuki masa puber, anak laki-laki juga berubah. Misalnya tadinya tidak ada bulu, tiba-tiba ada bulu. Tadinya kulit wajahnya mulus, tiba-tiba jadi berjerawat. Ini membuat remaja merasa cemas, bertanya apa yang salah pada dirinya.

Menurutnya tantangan pada usia remaja itu kompleks. Mereka haru bisa menghadapinya. Karena itu, orang tua harus bantu menghadapi masa ini dengan mulus.

Remaja harus diajarkan memiliki pandangan positif tentang diri sendiri. Misalnya, ajarkan remaja untuk menerima dirinya apa adanya. Vera mengajak orang tua mengenalkan, contohnya, makna kecantikan dengan mengajarkan remaja bahwa tidak harus berkulit putih untuk menjadi cantik. Kulit gelap pun bisa tetap tampil cantik.

Hal ini bisa membuat remaja kuat menghadapi dirinya. “Kalau mereka fokus ke penampilan mereka tidak puas dengan diri sendiri, ini akan menutupi percaya diri dan potensi dalam diri mereka. Sementara kalau mereka percaya diri, potensi mereka bisa kelihatan keluar. Sebaliknya kalau tidak percaya diri, potensinya tidak terlihat misalnya remaja ini jago public speaking, karena tidak percaya diri, itu semua tertutupi,” ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement