Selasa 07 Jun 2016 15:35 WIB

Turis Indonesia Duduki Posisi Penting Bagi Pariwisata Malaysia

Salah satu destinasi wisata di Malaysia, yakni menara kembar Petronas di Kuala Lumpur.
Foto: Republika/Musiron
Salah satu destinasi wisata di Malaysia, yakni menara kembar Petronas di Kuala Lumpur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Turis asal Indonesia menduduki posisi penting bagi pariwisata Malaysia. Tahun ini Malaysia menargetkan tiga juta turis Indonesia melancong ke sana.

Direktur Tourism Malaysia untuk Jakarta, Ahmad Esa, mengatakan setelah turis Singapura, turis Indonesia merupakan wisatawan yang paling banyak berkunjung. "Disusul tempat ketiga turis Cina," terangnya.

Tahun 2015 jumlah turis Indonesia yang datang ke Malaysia mencapai angka 2,78 juta. Jumlah itu sedikit menurun dari tahun 2014 yang mencapai 2,8 juta orang. Penurunan dikatakan merangkum banyak faktor, mulai dari melemahnya rupiah terhadap dolar AS. Hingga sejumlah sentimen kenegaraan yang meliputi dua negara, termasuk insiden yang menimpa dua pesawat Malaysia Airlines.

Padahal jumlah pembelanjaan turis Indonesia cukup banyak. Yakni 2.363 Ringgit Malaysia per kapita tahun 2014 dan 2.100 Ringgit Malaysia per kapita tahun 2013.

Berbagai tempat hiburan yang akan dibangun di Malaysia juga diharapkan akan meningkatkan minat turis Indonesia ke Malaysia. Ahmad menyebut di bulan Agustus KL City Grand Prix akan digelar, berlanjut dengan pembukaan Movie Animation Park Studio besutan Dreamworks di Ipoh, Perak, pada akhir tahun. Serta Fox Studio juga akhir tahun.

"Berwisata ke Malaysia sesungguhnya lebih ekonomis, dibanding ke Singapura misalnya. Data menyebut turis Indonesia akan mengeluarkan uang tiga kali lipat jika berwisata ke Singapura dibanding di Malaysia," kata Ahmad.

Secara umum Ahmad membagi tiga profil turis Indonesia ke Malaysia. Yang pertama adalah berlibur komposisinya 34 persen, kedua adalah turisme medis mencapai 25 persen hingga 35 persen, sisanya adalah turis yang berkunjung karena memiliki keluarga di Malaysia. Kategori terakhir jumlahnya juga cukup besar yakni 20 persen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement