Sabtu 07 Oct 2023 14:00 WIB

Singapura Sasar Wisatawan dari Kota-Kota Besar Indonesia

Turis Indonesia adalah pengunjung yang terbanyak yang datang ke Singapura.

Turis berfoto di salah satu titik populer di Singapura.
Foto: AP
Turis berfoto di salah satu titik populer di Singapura.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Singapura membidik peningkatan kedatangan wisatawan Indonesia  dengan melakukan kegiatan promosi ke berbagai kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar dan Yogyakarta.

Area Director Indonesia, Singapore Tourism Board Jakarta, Hafez Marican saat ditemui di Singapura mengungkapkan promosi dilakukan mengingat masyarakat Jakarta sangat mengenal Singapura, tapi di Medan dan kota-kota besar lainnya belum.

Baca Juga

"Kami akan memperkenalkan sisi berbeda Singapura ke Makassar, Medan dan kota besar lainnya," ujarnya, Sabtu (7/10/2023).

Singapore Tourism Board pun memperkenalkan program "Made In Singapore", sebuah kampanye global terbaru untuk menginspirasi para wisatawan agar memilih Singapura sebagai tujuan wisata berikutnya. Konsep ini menawarkan pengalaman khas Singapura mulai dari atraksi ikonis hingga destinasi hidden gems atau lokasi wisata unik yang jarang diketahui sebelumnya, serta mengubah momen biasa menjadi luar biasa.

 

Biasanya turis Indonesia datang ke Singapura untuk berwisata belanja ke Orchard Road, tetapi konsep baru ini akan memberikan inovasi dan pengalaman baru berwisata ke Singapura.

Dimulai dengan air terjun raksasa dalam ruangan yang berada di Terminal 1 Bandara Changi, menyaksikan air show di salah satu taman burung terbesar Asia, Mandai Bird Paradise yang baru dibuka, serta destinasi baru Pantai Palawan di Pulau Sentosa, yang menghadirkan gokart elektrik dalam ruangan, taman golf mini, serta taman terapung pertama di Singapura.

Singapura yang dipenuhi pencakar langit juga menawarkan wisata alam seperti di gedung Capita Spring dan Parkroyale Collection, yang memberikan pengalaman unik dalam menikmati suasana kegiatan ekowisata.

Di tempat tersebut, para wisatawan bisa melihat gedung-gedung yang ditanami pepohonan dan bunga-bunga, sambil belajar bagaimana cara masyarakat Singapura menjaga alamnya, memilah sampah dan melakukan penghijauan dengan membuat taman dan bertani di gedung-gedung yang merupakan pusat perkantoran.

Wisatawan juga diajak merasakan pengalaman sebagai penduduk Singapura yang multikultur, dengan naik vespa sespan ke daerah konservasi arsitektur di daerah Joo Chiat untuk melihat rumah-rumah Peranakan, Eurasia, Melayu, China dan India, sampai keliling gang sembari menyaksikan apa yang berada di belakang rumah mereka.

Selain naik kendaraan, pengenalan sejarah dan akulturasi masyarakat Singapura juga bisa dilakukan dengan mengikuti #Instawalk, wisata foto di Bugis Street, Waterloo dan Kampung Gelam. Pada tur ini, wisatawan dapat mengabadikan momen selama mereka di Singapura secara estetik, sambil berkunjung ke restoran, kafe, dan toko-toko unik.

Dengan destinasi dan kampanye "Made in Singapore" terbaru ini, diharapkan jumlah turis Indonesia yang datang ke Singapura semakin bertambah. Turis Indonesia adalah pengunjung yang terbanyak yang datang ke negara Singa ini.

Singapore Tourism Board mendata sepanjang 2022, kunjungan wisatawan Indonesia berjumlah 1,1 juta orang, tertinggi dibandingkan India sebanyak 686 ribu wisatawan, dan Malaysia 591 ribu wisatawan.

Hafez mengungkapkan pihaknya menargetkan kedatangan 2 juta turis Indonesia ke Singapura, dengan potensi kedatangan yang makin meningkat dalam dua tahun kedepan seiring pandemi yang mulai berakhir.

"Dalam dua tahun ke depan, kami menargetkan kunjungan wisatawan kembali ke normal seperti sebelum COVID-19, yaitu 3,1 juta," ujarnya.

Hafez mengungkapkan mengundang kehadiran wisatawan Indonesia datang ke Singapura cukup menantang, sehingga Singapura mencoba memahami karakteristik masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. ​"Kami memasang label sertifikasi halal di berbagai restoran serta membangun mushala di lokasi wisata dan memperluas masjid," katanya.

Sertifikasi halal di Singapura sudah ada sejak 35 tahun lalu dikeluarkan oleh MUIS Majlis Ugama Islam Singapura, dan kini akan semakin diperluas. Selain logo halal, biasanya pemilik restoran asal melayu atau yang beragama Islam akan menempelkan stiker Halal yang menunjukkan pemiliknya adalah muslim, sebab dalam Undang-Undang Singapura, pemilik restoran muslim tidak perlu membuat sertifikasi halal.

"Kalau dulu makanan halal hanya makanan Melayu, maka kini makanan India, makanan Jepang dan makanan barat dengan sertifikasi halal semakin diperluas," kata Hafez sambil menjelaskan variasi makanan muslim yang semakin bertambah.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement