Senin 30 May 2016 08:24 WIB

Ini Cerita di Balik Adegan Eksplisit Prenjak

Rep: Adysha Citra R/ Red: Andi Nur Aminah
Film Prenjak, In The Year Of Monkey
Foto: BBC
Film Prenjak, In The Year Of Monkey

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Film pendek pemenang Festival Film Cannes 2016, Prenjak, dari Indonesia, punya satu adegan yang cukup kontroversial. Apa itu? Adegan ini menampilkan gambar organ intim secara eksplisit. Ternyata, untuk bisa menghasilkan adegan tersebu tim produksi Prenjak harus berjuang ekstra.

Aktris utama dalam Prenjak, Rosa Winenggar, mengungkapkan bahwa adegan eksplisit tersebut tidak diperankan olehnya, melainkan oleh body double. Oleh karena itu, sutradara film Prenjak Wregas Bhanuteja harus mencari aktris pengganti untuk memerankan adegan yang 'mengagetkan' banyak pihak tersebut.

Untuk mencari aktris pengganti ini, Wregas dan juga beberapa timnya mendatangi kawasan yang dikenal sebagai area prostitusi di Yogyakarta, Pasar Kembang. Di sana, Wregas dan tim memasuki area prostitusi lengkap dengan tripod dan juga kamera mereka.

"Kami masuk gang, kemudian menemui mucikari," kenang Wregas saat ditemui di Institut Kesenian Jakarta.

Setelah berhasil menemui mucikari, Wregas mengungkapkan maksud dan tujuan timnya, yaitu meminta salah satu wanita tuna susila di sana untuk berperan dalam adegan eksplisit Prenjak. Beberapa mucikari yang ditemui Wregas selalu menolak karena adanya penggunaan kamera. "Saya menyerah, lalu kembali ke Jakarta," terang Wregas.

Sesampainya di Jakarta, Wregas mengingat bahwa ada model-model yang terbiasa untuk berpose tanpa busana untuk keperluan kelas seni di Institut Kesenian Jakarta. Setelah menghubungi beberapa model tersebut, akhirnya ada dua model yang bersedia untuk terlibat dalam produksi Prenjak, dengan syarat identitas mereka tidak ditampilkan.

Wregas menyadari adegan memperlihatkan organ intim pria dan wanita dalam filmnya akan menimbulkan penolakan di beberapa pihak. Wregas menekankan bahwa yang menjadi poin utama dalam film Prenjak bukan  soal pornografi melainkan pesan akan perjuangan seorang ibu demi anaknya.

Meski begitu, Wregas pun tak akan memaksakan jika beberapa pihak menolak pemutaran film Prenjak. Sebaliknya, Wregas memilih untuk menghormati pihak-pihak yang menolak film Prenjak akibat adegan eksplisit yang ditampilkan.

"Jika Indonesia belum bisa menerima film (Prenjak) yang belum disensor, jika ada tempat-tempat di mana film ini tidak boleh diputar, saya terima saja," jelas Wregas.

(Baca Juga: Ini yang Membuat Prenjak Jadi Jawara di Festival Film Cannes 2016)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement