Senin 25 Apr 2016 09:00 WIB

Masih Banyak Orang Tua Abaikan Komunikasi Efektif dalam Keluarga

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Andi Nur Aminah
Hubungan baik antara anak dan orangtua (Ilustrasi)
Foto: Sheknows
Hubungan baik antara anak dan orangtua (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Orang tua penting membiasakan komunikasi efektif dan cerdas dalam keluarga. Ini akan menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak.

Jika komunikasi dalam keluarga ini mampet, jangan harap kepribadian dan karakter anak akan terbentuk sesuai dengan harapan kedua orang tuanya. Di luar kasih sayang, sejatinya, ini juga sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan anak.  

Hal ini terungkap dalam diskusi Ketahanan Keluarga dan Anak, yang dilaksanakan dalam rangka Milad ke-18 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Semarang, Ahad (24/4). Pakar perempuan dan anak, Dinie Ratri mengatakan, agar dalam mendidik anak dapat berjalan dengan baik, maka diperlukan komunikasi yang aktif antara suami dan istri dalam keluarga serta anak dengan keduanya.

“Permasalahannya adalah, kebanyakan keluarga kini tidak memiliki komunikasi yang terjalin. Sehingga hak-hak anak untuk bisa berkembang dalam kerangka asuhan orang tua menjadi terabaikan,” jelasnya.

Seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi, lanjutnya, banyak orang tua yang masing-masing sibuk dengan gadgetnya. Pun demikian sang anak yang saat ini sudah akrab dengan teklnologi tersebut.

Hal ini diamini oleh pemerhati perempuan dan anak, Eko Yuliarti Siraj. Ia menyampaikan, tugas mendidik dan membina anak adalah tugas bersama yang menjadi tanggungjawab ayah dan bunda.

Menurutnya, saat ini membina anak dalam keluarga bukan hanya tugas ibu saja. Ayah juga memiliki peranan dan tanggungjawab yang sama dalam membina dan mendidik anak-anknya.

“Ini bukan konsep yang lahir karena pemikiran para pakar. Namun Konsep tanggungjawab orang tua ini sejatinya juga sesuai dengan syariat Islam, dalam konteks mendidik dan membesarkan anak,” tegasnya.

Sementara, Tsaniatus Solikhah dari Yayasan Setara menuturukan bahwa saat ini data di lapangan menunjukkan banyak terjadi peristiwa kekerasan terhadap anak. Dengan latar belakang ini, penting pembinaan dan pendidikan langsung dilakukan oleh ayah dan bunda.

“Kami meneliti bahwa, khusus di kota Semarang,  kekerasan anak kekerasan anak sudah terjadi sejak kelas 3 sekolah dasar. Bahkan kasus di Semarang ada sekolah yang satu kelas sudah pernah atau menjadi korban kekerasan terhadap anak,” ujar perempuan yang akrab disapa Ika ini.

Saat ini, Yayasan Setara, lanjutnya, sudah membuat delapan sekolah ramah anak untuk menanggulangi berbagai kasus kekerasan yang kerap terjadi terhadap anak. Dengan melibatkan pimpinan sekolah dan guru serta orangtua, pihaknya mempromosikan tentang hak-hak anak, kebijakan terkait pelarangan terhadap kekerasan dan penghukuman fisik serta mendiskusikan bersama persoalan dan cara-cara untuk mengatasi masalah anak.

“Di tingkat anak, dilakukan pendampingan secara rutin di tiap sekolah dan di kampung basis tempat tinggal untuk membuka ruang ekspresi bagi anak guna menumbuhkan kebersamaan dan semangat anti kekerasan,” jelasnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement