Rabu 29 Jul 2015 19:01 WIB

'Keluarga Indonesia Alami Kondisi Dilematis'

Rep: RR Laeny Sulistywati/ Red: Indira Rezkisari
Keluarga perlu menjalani hidup dengan kasih sayang dan mencoba mengurangi ambisi untuk selalu jadi yang terbaik.
Foto: lgrc.us
Keluarga perlu menjalani hidup dengan kasih sayang dan mencoba mengurangi ambisi untuk selalu jadi yang terbaik.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG SELATAN -- Keluarga di Tanah Air saat ini mengalami kondisi dilematis. Mulai dari meningkatnya tuntutan gaya hidup hedonisme, banyaknya perpisahan dari jaringan sosial kekerabatan, peningkatan perceraian, hingga banyaknya pasangan tinggal di luar nikah.

Ketua Umum Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Pusat Erni Guntarti Tjahjo Kumolo mengatakan, keluarga di Indonesia saat ini mengalami kondisi dilematis. Hal ini terlihat dari berbagai kondisi yang berubah, yaitu keluarga sedikitnya memperoleh tiga pengaruh yang datang dari keluarga. Yaitu terkait perkembangan sosial, ekonomi, dan budaya yang bertransformasi dari tradisional menjadi modern. Selain itu, keluarga dihadapkan situasi meningkatnya tuntutan gaya hidup hedonisme.

“Selain itu, semakin banyak keluarga yang terpisah dari jaring sosial kekerabatan. Lalu muncul fenomena baru meningkatnya perceraian, banyaknya angka hidup bersama di luar nikah, dan menurunnya keinginan untuk memiliki anak,” ujarnya saat acara seminar nasional peringatan Hari Keluarga Nasional ke-22 tahun 2015 bertema "Pembangunan Keluarga Sebagai Implementasi Pembangunan Karakter Bangsa", di Tangerang Selatan, Banten, Rabu (29/7).

Selain itu, perubahan pada struktur keluarga, sosial budaya seperti jauhnya jarak tempat bekerja, kemacetan, kriminalitas, dan konflik sosial politik ikut memberikan efek negatif pada kondisi psikologis anggota keluarga. Situasi dilematis juga terjadi saat keluarga harus berhadapan dengan cepatnya perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.

“Sehingga, memunculkan dampak yang sangat besar dalam penurunan ketahanan keluarga,” ujar perempuan yang juga ketua umum peringatan Harganas ke-22 ini. Kemiskinan juga membuat keluarga relatif tidak memiliki akses terhadap pelayanan sosial dasar, termarginalkan dalam posisi pengambilan keputusan, dan apatis terhadap upaya peningkatan kualitas diri dan keluarganya. Situasi ini masih diperberat dengan masalah kemiskinan yang berdampak terhadap rendahnya tingkat pendidikan. Keluarga juga harus menghadapi degradasi moral remaja dan anak bangsa karena pengaruh narkoba, pergaulan bebas, ancaman HIV/AIDS, dan meningkatnya kejahatan yang disertai pelecehan seksual kepada anak.

“Kita tentu bersepakat akan pentingnya keluarga sebagai benteng utama ketahanan keluarga,” ujarnya.

Sebab, dia melanjutkan, pola pengasuhan yang baik juga mengajarkan kecakapan hidup, dimana individu memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang memungkinkan individu kelak dapat berpartisipasi sebagai anggota masyarakat.

Sehingga, untuk kondisi tersebut dapat diatasi dengan membangun kehidupan keluarga yang semakin baik dan maju. “Karena membangun kehidupan keluarga ini berkorelasi terhadap kemampuan memecahkan masalah dan upaya memajukan kehidupan bangsa,” katanya.

Selain itu, diperlukan penyelamatan bangsa dengan memperkuat nilai luhur bangsa. Penyelamatan bangsa melalui penyelamatan keluarga berfungsi untuk memecahkan masalah dan memproyeksikan kehidupan bangsa. Terutama yang berkaitan dengan pembangunan karakter atau mentalitas sebagai modal rohaniah yang strategis di tengah kerasnya persaingan dengan bangsa lain di era global. Penyelamatan keluarga dapat dilakukan dengan adanya persiapan. “Dimulai dari persiapan pra nikah sampai dengan pembinaan ketahanan keluarga disertai pemberdayaan ekonomi keluarga. Harapannya keluarga menjadi benteng utama dan pertama dari ancaman yang mengganggu bangsa Indonesia,” katanya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement