Sabtu 23 May 2015 08:27 WIB

Minim Penduduk, Ibukota Myanmar Tampak Seperti Kota Hantu

Rep: MGROL38/ Red: Winda Destiana Putri
Myanmar
Foto: Dailymail
Myanmar

REPUBLIKA.CO.ID, MYANMAR -- Sejak pemerintah Myanmar memutuskan untuk memindahkan ibu kota yang semula berada di kota Yangon (juga dikenal sebagai Rangoon) menjadi di kota Naypyidaw dekade lalu, kota ini masih terlihat sangat sepi.

Jauh dari suasana ibukota pada umumnya yang terkenal dengan kepadatan penduduknya. Padahal, pemerintah telah membangun perumahan resmi yang mampu menampung hingga satu juta penduduk, taman rekreasi Pagoda Uppatansanti yang indah, beberapa taman dan kebun, serta kompleks air mancur, dilansir Dailymail Sabtu (23/5).

Tak hanya itu, pemerintah bahkan juga membangun jalan raya berukuran besar yang memiliki 20 jalur untuk dilewati mobil SUV pemerintah. Beberapa laporan menyebutkan, jalan besar tersebut juga dibangun sebagai landasan untuk mengakomodasi pendaratan militer. Namun nyatanya hanya segelintir orang yang terlihat berjalan atau bersepeda di kota terpencil tersebut pada siang hari, membuat ibukota tersebut tampak seperti kota hantu.

Pembangunan Naypyidaw dimulai sejak tahun 2012. Lokasinya berada di tengah-tengah hutan yang tidak dihuni selama lebih dari 2000 tahun. Meski beberapa pejabat pemerintah telah pindah ke kota tersebut, tetapi karyawan lainnya tetap tinggal di kota yang lama. Mereka bahkan rela bolak-balik Yangon-Naypyidaw setiap hari karena merasa takut dengan kekosongan kota itu.

Pemerintah juga telah menyisihkan hampir 5 hektar tanah masing-masing untuk kedutaan asing dan kantor pusat misi PBB, namun hanya kedutaan Bangladesh yang telah pindah ke Naypyidaw sejauh ini.

Bahkan orang asing dan investor pun tidak tertarik untuk mengunjungi kota itu, terutama agen perjalanan. Pasalnya, mereka mengkhawatirkan daerah tersebut yang mungkin masih berbahaya. Sedmentara para warga yang lain tetap tinggal di daerah kumuh kota lama. Mereka biasanya datang ke kota itu sekadar menikmati pemandangan sekitar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement