Ahad 07 Dec 2014 10:38 WIB

Pikir Dua Kali Sebelum Memboyong Si Kecil Ikut Arisan

Rep: Reiny Dwinanda/ Red: Indira Rezkisari
Ibu dan anak/ilustrasi
Foto: Wihdan Hidayat/Republika
Ibu dan anak/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sudah menikah dan memiliki keturunan, kehidupan perempuan tentu berubah. Persoalan akan muncul ketika perempuan belum memiliki kematangan mental untuk menjalankan peran barunya.

“Ibu pun harus menerima kondisinya saat ini,” saran psikolog Efnie Indrianie, kepada ROL, Ahad (7/12). Begitu berkeluarga, waktu untuk melakukan kegiatan yang sifatnya personal akan berkurang. Naluri kumpul dengan teman, misalnya, memang sulit dibendung.

Namun, prioritas perempuan sudah semestinya bergeser ke urusan keluarganya. “Dalam kondisi mental yang cukup matang, ibu akan bisa mendedikasikan dirinya untuk keluarga,” komentar Efnie.

Sebagai makhluk sosial, ibu tentu tetap butuh bergaul. Tak heran jika banyak ibu yang membentuk kelompok arisan atau menjadwalkan ladies day out dengan sahabatnya.

 

Bagaimana jika ibu memboyong buah hatinya ikut berkumpul dengan teman-temannya? Sebaiknya, pertimbangkan kembali ide tersebut. Apalagi jika obrolan yang biasanya bergulir temanya tak cocok untuk konsumsi anak-anak.

Si kecil tentu tak bermaksud menguping, tetapi ia pasti mendengar meski asyik dengan aktivitasnya sendiri. Lain halnya jika ibu dan teman-teman memiliki kesadaran yang sama untuk menjaga lisan dan perilakunya ketika berkumpul.

Ketika ibu bergosip, misalnya, perilaku itu kelak bisa ditiru oleh anak. Demikian pula dengan komentar atau celetukan negatif yang terlontar saat teman-teman ibu menanggapi topik yang dibahas. Anak yang terbiasa mendengarnya akan meresapi hal tersebut dan menganutnya sebagai bagian dari nilai yang wajar.

Anak usia nol sampai 12 tahun sebaiknya tak diajak ibu pergi arisan atau aktivitas sejenis. Berbeda dengan anak pra remaja yang sudah bisa memilah, kelompok usia yang lebih muda menyerap informasi secara apa adanya. “Berhati-hatilah memberikan contoh perilaku karena itu akan terekam di memori anak,” ujar Efnie.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement