Rabu 30 May 2012 02:00 WIB

Bermacam Cara Menghargai Kopi

Rep: setyanavidita livikacansera/ Red: M Irwan Ariefyanto
Secangkir kopi
Secangkir kopi

REPUBLIKA.CO.ID,Sebagai pencinta kopi, Raymond Malvin, Arris Aprilio, dan Roget Lukita merasa kopi Indonesia memiliki nasib yang sama memprihatinkannya dengan seni. “Di Indonesia itu banyak seniman yang mendunia, tapi kurang mendapat apresiasi yang memadai,” ujar Raymond yang mengaku cinta mati pada kopi sejak duduk di kelas tiga SD.

Sama halnya dengan kopi, minuman hitam yang biasa menjadi teman memulai hari ini sebenarnya juga merupakan komoditas yang seharusnya menjadi kebanggan masyarakat Indonesia. Pada kenyataannya, seperti peribahasa “tak kenal maka tak sayang”, masyarakat justru sama sekali tidak tahu bahwa kopi Indonesia itu sangat populer di berbagai belahan dunia.

“Kalau kita ke Amerika, misalnya, tiga besar kopi terlaris di setiap coffee shop di sana pasti salah satunya dari Indonesia. Biasanya dari Toraja,” ungkap Raymond yang saat ini berusia 30 tahun.

Karena berharap kopi Indonesia tidak lagi menjadi tamu di rumah sendiri, bersama kedua rekannya, Raymond mengembangkan proyek “Kopi Keliling” sejak 2011. Kegiatan ini adalah proyek inisiatif yang tujuannya memfasilitasi seniman yang kurang mendapat kesempatan pameran untuk memamerkan karyanya di beberapa acara setiap tahunnya. Tapi, setiap karya yang tampil kebanyakan berupa lukisan wajib mengangkat beragam angle yang menggambarkan dinamika dunia kopi di Indonesia.

 

Tidak hanya sekadar melakukan pameran kesenian, dalam setiap acara yang dilakukan Kopi Keliling juga tidak lupa mengajak para ahli di dunia kopi untuk berbagi pengetahuan pada orang yang hadir tentang beragam keistimewaan kopi nusantara. Mulai dari pengenalan pada biji kopi, proses roasting, dan memperkenalkan menikmati kopi dengan cara yang berbeda. Misalnya, menyesap kopi hitam tanpa tambahan apa pun biasa menjadi rangkaian kegiatan yang biasa dilakukan Kopi Keliling di setiap acaranya.

Menurut Raymond, dalam setiap kegiatan yang digelar, semua indera yang dimiliki pengunjung akan difokuskan pada pengenalan tentang kopi. “Mereka bisa melihat karya tentang kopi, menyentuh biji kopi, dengar pengetahuan baru tentang kopi, dan pastinya mencicipi kopi hitam,” lanjutnya.

Tahun lalu, Kopi Keliling menggelar lima event terakhir pada Desember tahun lalu. Rencananya, untuk tahun ini acara pertama akan digelar pada pertengahan Juni. Apabila sebelumnya seniman yang diajak ikutan di acara ini hanya berkisar di Jakarta dan sekitarnya, untuk acara perdana ini Raymond dkk ingin juga mengajak para seniman di daerah lain yang sekiranya membutuhkan kesempatan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement