REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi pencinta kuliner seafood, ikan kakap menjadi salah satu jenis ikan yang banyak digemari. Namun, belakangan beredar informasi bahwa ikan ini dapat mengandung racun yang berisiko bagi kesehatan. Lantas, benarkah masyarakat perlu menghindari konsumsi ikan kakap?
Pakar teknologi hasil perairan IPB University, Prof Joko Santoso, mengatakan masyarakat tidak perlu langsung menghindari ikan kakap. Menurutnya, risiko kesehatan tidak berlaku pada seluruh jenis dan kondisi ikan kakap.
"Ikan kakap pada umumnya aman dikonsumsi. Risiko muncul pada kondisi tertentu, terutama terkait jenis dan ukuran ikan, habitat, lokasi penangkapan, serta cara penanganannya," ujar Prof Joko dalam keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (16/9/2026).
Ia menjelaskan, salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah ciguatera, yakni keracunan akibat ciguatoksin. Toksin ini tidak hilang meskipun telah dimasak. Ciguatoksin berasal dari rantai makanan laut, termasuk mikroalga atau ganggang laut kecil seperti Gambierdiscus, yang menghasilkan toksin. Racun kemudian dapat terakumulasi pada ikan yang memakan organisme laut terkontaminasi.
Meski demikian, risiko ini tidak sama pada semua ikan kakap. Beberapa jenis kakap, terutama ikan karang berukuran besar dan bersifat predator, dapat mengandung toksin tersebut.
"Spesies, habitat, ukuran, umur, dan lokasi penangkapan menjadi faktor penting. Kakap yang hidup di ekosistem terumbu karang dan berukuran lebih besar serta lebih tua cenderung lebih berisiko mengakumulasi ciguatoksin," kata Prof Joko.
Risiko ciguatera juga terutama menjadi perhatian di wilayah tropis dan subtropis tertentu. Karena itu, tingkat risiko tidak sama di setiap wilayah perairan.
Prof Joko mengungkapkan bahwa ikan yang mengandung ciguatoksin tidak harus terlihat sakit dan perairannya tidak harus tampak kotor. Ikan yang mengandung toksin juga umumnya tidak menunjukkan perubahan khusus pada rasa, bau, maupun tampilan.
"Selain ciguatoksin, ikan dari perairan tercemar dapat mengandung merkuri atau polutan lainnya. Risiko biasanya lebih diperhatikan pada ikan predator yang besar dan berumur panjang," kata dia.