Sabtu 05 Sep 2026 09:12 WIB

Tembus 50 Ribu Kasus ISPA di Wilayah Terdampak Karhutla dalam Dua Bulan

Asap yang timbul akibat karhutla bisa meningkatkan kasus gangguan saluran pernapasan.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Pengendara melintas di jalan lingkar selatan Palembang-Banyuasin yang tertutup kabut asap di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (2/9/2026). Kabut asap yang menyelimuti daerah tersebut merupakan dampak dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Kabuoaten Ogan Ilir (OI) dan Kabupaten Banyuasin, saat ini Satgas Karhutla Sumatera Selatan terus mengintensifkan pemadaman kathutla melalui darat dan udara di sejumlah Kab/kota tersebut.
Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Pengendara melintas di jalan lingkar selatan Palembang-Banyuasin yang tertutup kabut asap di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (2/9/2026). Kabut asap yang menyelimuti daerah tersebut merupakan dampak dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Kabuoaten Ogan Ilir (OI) dan Kabupaten Banyuasin, saat ini Satgas Karhutla Sumatera Selatan terus mengintensifkan pemadaman kathutla melalui darat dan udara di sejumlah Kab/kota tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) meningkat signifikan seiring kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kementerian Kesehatan mencatat, kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla tembus 50.891 kasus sejak Juli hingga Agustus 2026.

Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis penyakit paru (kanker paru/respiratori) sekaligus dosen Universitas Gadjah Mada, dr Ika Trisnawati, mengatakan asap yang timbul akibat karhutla dapat meningkatkan kasus gangguan saluran pernapasan seperti ISPA. Apalagi pada musim kemarau, paparan kabut asap dan partikel debu lebih mudah terbawa angin dan kemudian masuk ke saluran pernapasan.

Baca Juga

"Adanya peningkatan ISPA di periode musim kemarau itu karena pada saat kemarau tentu saja akan banyak partikel debu. Partikel-partikel debu kecil yang terbawa oleh angin berada di udara bebas dan kemudian terhirup di pernapasan," kata dr Ika dalam keterangan tertulis, dikutip pada Sabtu (5/9/2026).

la kemudian mengungkap cara mudah mengenali gejala ISPA. Menurut dr Ika, gejala ISPA yang umum meliputi batuk dan pilek yang dapat menyerang hidung, tenggorokan, hingga saluran pernapasan. Pada kondisi infeksi, gejala tersebut juga dapat disertai demam.

Batuk pada awal infeksi virus umumnya kering, sedangkan batuk dengan dahak yang berubah warna menjadi kekuningan dapat menunjukkan adanya infeksi bakteri. "Kalau untuk ISPA ringan yang disebabkan paparan debu dan asap sesaat. Umumnya kondisinya dapat membaik dalam tiga hingga lima hari," ujar dr lka.

photo
Siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 4 Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (21/8/2026). Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memberlakukan kebijakan untuk siswa SD dan SMP dengan menunda waktu masuk jam pelajaran menjadi pukul 08.00 WIB, meniadakan sementara kegiatan di luar ruangan, wajib memakai masker, dan menerapkan pembelajaran jarak jauh bagi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan penurunan kualitas udara. - (ANTARA FOTO/Auliya Rahman)

 

Dia mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri apabila keluhan tidak membaik atau justru semakin berat. Tanda yang perlu diperhatikan antara lain demam yang tidak turun, dahak semakin banyak dan berubah warna menjadi kekuningan, serta sesak napas yang memburuk.

Khusus pada anak-anak yang lebih rentan terjangkit ISPA disertai dengan gejala suara mengi atau "ngik-ngik" saat bernapas perlu segera diperiksakan. "Pemeriksaan dapat dimulai di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas atau layanan kesehatan primer. Patokannya bukan ISPA dari infeksi virus atau bakteri itu mana yang paling berat, tetapi pada gejalanya," kata dia.

Dia mengungkapkan individu dengan penyakit paru kronis termasuk kelompok yang rentan. Kelompok tersebut mencakup penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) akibat rokok, tuberkulosis paru, hingga kanker paru.

Selain itu, masyarakat dengan penyakit kronis lain seperti diabetes, penyakit jantung, dan gagal ginjal juga termasuk kelompok yang rentan mengalami ISPA. Lansia juga memiliki risiko lebih tinggi. Hal tersebut berkaitan dengan penurunan fungsi organ, termasuk saluran pernapasan, seiring bertambahnya usia.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi