REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membagikan langkah pencegahan yang bisa dilakukan, terutama oleh orang tua, untuk mewaspadai paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dapat berdampak pada kesehatan pernapasan anak.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Piprim Basarah Yanuarso, mengatakan karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga darurat kesehatan anak dan kelompok rentan. Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang sangat berbahaya bagi saluran pernapasan anak dan kelompok rentan.
“Partikel ini dapat menembus jauh hingga ke saluran napas bagian bawah, bahkan diserap masuk ke aliran darah. Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan karena mereka menghirup lebih banyak udara relatif terhadap berat badannya, serta sistem pernapasan dan imunnya yang masih berkembang,” kata Piprim Basarah dalam keterangan resmi IDAI yang diterima dan dikonfirmasi di Jakarta pada Sabtu (26/9/2026).
IDAI mengimbau seluruh orang tua dan masyarakat untuk tidak menunda mencari pertolongan medis jika anak menunjukkan gejala gangguan pernapasan.
"Kesehatan anak adalah prioritas utama. Jangan ragu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul gejala sesak napas, batuk berkepanjangan, atau penurunan kesadaran. Pencegahan dan deteksi dini adalah kunci," kata dokter Piprim.
Asap karhutla mengandung partikel halus (PM2.5 dan PM10) berdiameter ≤2,5 mikron yang cukup kecil untuk menembus jauh hingga ke saluran napas bagian bawah, bahkan diserap masuk ke aliran darah, serta gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO) hasil pembakaran biomassa.