Rabu 22 Jul 2026 20:52 WIB

Studi: Sering Nonton Konser Bisa Bikin Awet Muda

Mengapa kegiatan budaya bisa membuat usia fisiologis lebih muda?

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Warga mengunjungi Jakarta Light Festival 2026 di Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta, Senin (22/6/2026). Jakarta Light Festival 2026 diselenggarakan pada 21–22 Juni 2026 untuk memeriahkan HUT ke-499 Kota Jakarta. Acara ini menampilkan video mapping, instalasi cahaya, pertunjukan lampu, serta konser musik.Menonton film di bioskop, menikmat konser, hingga mengunjungi museum ternyata tidak hanya sekadar hiburan, namun juga bermanfaat bagi kesehatan.
Foto: Edwin Putranto/Republika
Warga mengunjungi Jakarta Light Festival 2026 di Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta, Senin (22/6/2026). Jakarta Light Festival 2026 diselenggarakan pada 21–22 Juni 2026 untuk memeriahkan HUT ke-499 Kota Jakarta. Acara ini menampilkan video mapping, instalasi cahaya, pertunjukan lampu, serta konser musik.Menonton film di bioskop, menikmat konser, hingga mengunjungi museum ternyata tidak hanya sekadar hiburan, namun juga bermanfaat bagi kesehatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menonton film di bioskop, menikmat konser, hingga mengunjungi museum ternyata tidak hanya sekadar hiburan, namun juga bermanfaat bagi kesehatan. Studi terbaru menemukan orang yang lebih sering mengikuti kegiatan budaya memiliki usia fisiologis yang lebih muda.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology and Community Health. Penelitian ini menambah bukti bahwa tetap aktif secara sosial dan budaya dapat memainkan peran penting dalam penuaan yang sehat.

Baca Juga

Penelitian ini merupakan studi longitudinal pertama yang mengkaji hubungan antara keterlibatan dalam aktivitas budaya dan usia fisiologis. Peneliti menganalisis data dari 1.899 peserta dalam English Longitudinal Study of Ageing, sebuah studi jangka panjang terhadap orang dewasa berusia 50 tahun ke atas di Inggris.

Untuk menghitung usia fisiologis, perawat terlatih mengukur 10 indikator kesehatan yakni tekanan nadi, tekanan darah diastolik, fungsi paru-paru, kadar hemoglobin, fibrinogen, hemoglobin terglikasi (HbA1c), kolesterol jahat atau LDL, indeks massa tubuh, kekuatan genggaman tangan, serta kecepatan berjalan. Seluruh indikator tersebut kemudian digabungkan menjadi satu skor usia fisiologis.

Selain itu, para peserta juga diminta melaporkan seberapa sering mereka melakukan tiga jenis kegiatan budaya, yaitu menonton film di bioskop, mengunjungi museum atau galeri seni, serta menghadiri pertunjukan teater, konser, atau opera. Frekuensi setiap aktivitas diberi skor mulai dari nol (jika tidak pernah) hingga 5 (dua kali sebulan atau lebih), sehingga menghasilkan skor keterlibatan budaya total antara 0 hingga 15.

Hasil penelitian menunjukkan, orang dewasa yang mengikuti kegiatan budaya setidaknya sekali dalam beberapa bulan sekali memiliki rata-rata usia fisiologis 66,9 tahun. Sementara itu, mereka yang lebih jarang mengikuti kegiatan tersebut memiliki rata-rata usia fisiologis 69,9 tahun atau sekitar tiga tahun lebih tua. Usia fisiologis sendiri adalah ukuran usia biologis tubuh berdasarkan kondisi kesehatan dan fungsi organ.

Peneliti juga menemukan bahwa peserta dengan tingkat keterlibatan budaya yang lebih tinggi cenderung berjenis kelamin perempuan, memiliki status sosial ekonomi yang lebih tinggi, masih bekerja, dan melaporkan kondisi kesehatan yang lebih baik. Konsultan senior Geriatric Prasun Chatterjeem, yang tidak terlibat dalam studi, mengatakan penuaan yang sehat dipengaruhi tidak hanya oleh kondisi fisik, tetapi juga kesehatan mental, sosial, dan emosional.

 

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi