Senin 20 Jul 2026 21:03 WIB

Tips Hadapi Galau Quarter Life Crisis Bagi Anak Muda

Setiap individu memiliki garis waktu kehidupannya masing-masing.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Anak muda mengalami fase quarter life crisis (ilustrasi). Menurut psikolog, quarter life crisis sangat berbeda dengan stres biasa.
Foto: Republika/Daan Yahya
Anak muda mengalami fase quarter life crisis (ilustrasi). Menurut psikolog, quarter life crisis sangat berbeda dengan stres biasa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tekanan sosial untuk mapan secara finansial, memiliki pekerjaan tetap, hingga tuntutan menikah di usia 25 tahun kerap memicu quarter life crisis (QLC) pada generasi muda. Standar kesuksesan semu yang diamplifikasi oleh media sosial ini dinilai menjadi beban tak kasatmata yang merusak mental.

Psikolog sekaligus dosen di Universitas Muhammadiyah Malang, Irine Putri Shaliha, mengatakan quarter life crisis sangat berbeda dengan stres biasa. Jika stres umumnya dipicu oleh beban tugas atau konflik sesaat, QLC merupakan krisis identitas mendalam yang menyangkut arah hidup, karier, hingga ketakutan ekstrem akan masa depan.

Baca Juga

Menurut Irine, tantangan anak muda di era modern jauh lebih kompleks. Pilihan hidup yang kian beragam, persaingan kerja yang makin ketat, serta masifnya penggunaan media sosial memicu keenderungan generasi muda untuk terus membandingkan pencapaian pribadinya dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna.

"Setiap individu memiliki garis waktu kehidupannya masing-masing. Oleh karena itu, kita perlu sesekali beristirahat dari media sosial agar tidak terjebak dalam ilusi yang membuat kita merasa tertinggal dari orang lain," kata Irine dalam keterangan tertulis, dikutip pada akhir pekan lalu.

Menurut dia, patokan usia ideal untuk meraih kemapanan atau menikah murni merupakan konstruksi sosial lingkungan. Desakan berupa pertanyaan-pertanyaan sensitif seputar pencapaian di usia tertentu sangat berisiko. Alih-alih menjadi motivasi, tekanan tersebut rentan memicu keemasan berlebih, penurunan harga diri, sikap terlalu mengkritik diri sendiri, yang pada akhirnya bermuara pada depresi.

photo
Ilustrasi kesehatan mental remaja. - (Republika/Daan Yahya)

 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi