REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Insomnia atau sulit tidur menjelang menstruasi sering kali dianggap sebagai hal wajar. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi salah satu gejala Premenstrual Syndrome (PMS) hingga Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD) yang kerap tidak disadari.
Dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dr Bharti Soy, mengatakan insomnia merupakan gangguan tidur yang ditandai dengan sulit tidur atau tidak mendapatkan tidur yang berkualitas. Menurutnya, banyak perempuan yang mengalami insomnia berat saat mendekati masa haid.
Bahkan sebagian perempuan dapat merasa kurang tidur meskipun telah beristirahat selama tujuh hingga delapan jam. Tak sedikit pula yang merasa kelelahan setelah menjalani aktivitas seharian, tetapi masih terjaga hingga pukul 02.00 dini hari.
Dokter Soy menjelaskan, gangguan tidur yang muncul pada hari-hari menjelang menstruasi dapat berkaitan dengan insomnia akibat PMS. PMS sendiri merupakan kumpulan gejala fisik, emosional, dan perilaku yang muncul pada satu hingga dua pekan sebelum masa menstruasi.
"PMS memengaruhi sebagian besar perempuan yang mengalami menstruasi, dengan gangguan tidur sebagai salah satu gejala yang jarang dilaporkan. Tetapi bagi sebagian perempuan, insomnia bisa terasa sangat menyiksa," kata dr Soy dikutip dari Hindustan Times, Rabu (24/6/2026).
Dia menjelaskan, PMS memiliki bentuk yang lebih berat yang dikenal sebagai Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). Menurutnya, PMDD merupakan kondisi yang lebih serius, di mana seseorang dapat mengalami mudah marah, kecemasan, serangan panik, atau respons emosional lainnya yang disertai insomnia pada pekan menjelang menstruasi.